Kamis, 20 Januari 2011

Laporan Akhir Kimia Dasar

ALAT-ALAT LABORATORIUM DAN FUNGSINYA PADA HASIL PENGAMATAN

Seperti yang telah kita ketahui, dalam melakukan suatu percobaan tentunya memerlukan alat-alat praktikum. Adapun beberapa alat yang dapat kalian ketahui sebagai berikut dan akan di lampirkan pada sebuah tabel.

No. Gambar Alat Fungsi
1.
Kaca Arloji

Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : 80 mm, 150 mm, diameter 76 cm, dan 150 cm
Fungsi : sebagai penutup gelas kimia saat dipanaskan, tempat menimbang dan mengeringkan.


2.

Corong

Bahan : plastik atau kaca
Ukuran : diameter 60 mm, 75 mm, 100 mm.
Fungsi : sebagai tempat kertas saring yang digunakan untuk membuat campuran ke dalam tabung yang mulutnya kecil.

3.

Batang pengaduk

Bahan : kaca
Ukuran : 15 cm, 20 cm, 30 cm
Fungsi : untuk mengaduk larutan agar tetap homogen atau agar zat padat cepat larut


4.

Neraca digital

Bahan : logam atau kaca
Ukuran : ketelitian 0,01 gr sampai 0,1 mg
Fungsi : untuk menimbang bahan kimia dalam skala atau jumlah yang besar


5.











Oven

Bahan : logam
Ukuran : _
Fungsi : tempat untuk memanaskan atau mengeringkan suatu sampah


6.


Rak tabung

Bahan : kayu atau plastic
Ukuran : diameter tabung 15 mm, 20 tabung
Fungsi : untuk meletakkan tabung reaksi supaya tersusun rapi dan indah

7.



Labu Erlenmeyer

Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : 25 ml, 50 ml, 100 ml, 250 ml, 300 ml, 500 ml, 1000 ml
Fungsi : untuk menyimpan dan memanaskan larutan, untuk menampung filtrate hasil penyaringan, untuk menampung titran pada proses hasil titrasi, dapat pula digunakan untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media, menampung aquadest

8.
Pipet gondok

Bahan : kaca jenis borosilikat
Ukuran : volume ukuran 1 ml, 2 ml, 5 ml, 10 ml, 25 ml
Fungsi : untuk mengambil cairan dalam jumlah tertentu secara tetap



9.
Kertas saring

Bahan : Kertas selulosa murni
Ukuran : 58x58 cm, dengan diameter 10 cm
Fungsi : untuk menyaring larutan yang bersifat heterogen


10.




Multimeter

Bahan : alat listrik
Ukuran : -
Fungsi : sebagai voltmeter dalam mengukur tegangan listrik
11.



Desikator

Bahan : kaca
Ukuran : -
Fungsi : 1. Tempat menyimpanan sampel yang harus bebas air
2. Untuk mengeringkan padatan



12.


Penjepit kayu

Bahan : kayu
Ukuran : -
Fungsi : untuk menjepit tabung reaksi saat dipanaskan



13.


Plat tetes

Bahan : porselen
Ukuran : 6 lubang dan 12 lubang
Fungsi : untuk menguji keasaman larutan, mereaksikan zat dalam jumlah kecil


14.











.


Kasa abses

Bahan : logam
Ukuran : 14x14 cm, 16x16 cm, 20x20 cm, 30x30 cm
Fungsi : sebagai alat pemanas atau pembakar api dan wadah yang dipanaskan


15.

Buret

Bahan : kaca jenis borosilikat
Ukuran : volume ukuran 10 ml, 25 ml, 50 ml, 100 ml
Fungsi : untuk mengeluarkan larutan dengan volume tertentu, biasanya digunakan untuk titrasi

16.


Kaki tiga

Bahan : besi
Ukuran : diameter 13 cm dan tinggi 15 cm
Fungsi : sebagai tungku atau penyangga wadah yang digunakan saat pemanasan

17.




Gelas ukur

Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : 10 ml, 25 ml, 50 ml, 100 ml, 250 ml, 500 ml, 1000 ml
Fungsi : untuk mengukur volume larutan yang tidak memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi dalam jumlah besar
18.

Termometer

Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : 1. Termometer Air raksa -10-110 oC, 0-150oC, 0-200oC, 0-250oC, 0-360oC
2. Termometer Akohol -10-110oC, 0-50oC, 0-150oC
Fungsi : untuk mengukur suhu
19.
Penjepit logam

Bahan : logam
Ukuran : -
Fungsi : untuk menjepit atau memegang sesuatu yang panas, tetapi bukan untuk tabung reaksi
20.

Pembakar spiritus

Bahan : kaca jenis soda kapur dan tembaga
Ukuran : volume 100 ml
Fungsi : sebagai sumber untuk memansakan zat-zat kimia

21.









Tabung reaksi

Bahan : logam atau kaca
Ukuran : ketelitian 0,01 gr sampai 0,1 mg
Fungsi : melarutkan zat-zat padat dan mencampurkan zat-zat padat


22.

Cawan penguapan

Bahan : porselen
Ukuran : 50 ml, 75 ml, 100 ml, 125 ml
Fungsi : untuk menguapkn larutan atau mengeringkan zat padat yang basah



23.



Klem dan statif

Bahan : besi atau baja
Ukuran : diameter klem 10 mm dan panjang statif 60 cm
Fungsi : 1. Klem : untuk memegang buret yang digunakan untuk titrasi
2. Statif : untuk menegakkan buret, corong pisah dan peralatan kimia lain



24.











Erlenmeyer hisap

Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : 100 ml sampai 2000 ml
Fungsi : menampung cairan hasil titrasi. Dapat menahan tekanan sampai 5 atm
25.



Hot plate

Bahan : logam
Ukuran : -
Fungsi : 1. Untuk memanaskan suatuan larutan dalam jumlah besar
2. Untuk menghomogenkan suatu larutan dengan pengadukan

26.


Spatula

Bahan : stainless steel atau alumunium
Ukuran : panjang 150 mm
Fungsi : mengambil bahan kimia yang berbentuk padatan atau butiran halus untuk mengduk larutan

27.



Sendok porselen

Bahan : porselen
Ukuran : -
Fungsi : Untuk mengambil zat padat
28.





Labu bundar

Bahan : kaca jenis borosilikat
Ukuran : mulai dari 250 ml sampai 2000 ml
Fungsi : 1. Untuk memanaskan larutan dan menyimpan larutan
2. Tempat menabung hasil destilasi, evaporasi, ekstraksi dan merefuks
29.
Corong pisah

Bahan : kaca jenis borosilikat
Ukuran : volume ukuran 125 ml, 250 ml, 500 ml
Fungsi : untuk memisahkan dua macam cairan yang tidak bercampur atau memiliki densitas berbeda
30.



Botol pembersih

Bahan : plastic
Ukuran : 250 ml, 500 ml, 1000 ml
Fungsi : 1. Untuk membilas atau membersihkan alat-alat laboratorium
2. Untuk pengenceran larutan
3. Sebagai tempat penyimpanan aquadest
31.

Pipet volum

Bahan : kaca
Ukuran : 5 ml, 10 ml, dan 25 ml
Fungsi : untuk mengukur dan memindahkan larutan dengan volume tertentu secara tepat

32.





Cawan petri

Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : 100 x 15 mm biasa berdiameter 15 cm dapat menampung media sebanyak 15-20 ml, sedangkan cawan berdiameter 9 cm kira-kira cukup diisi media sebanyak 10 ml
Fungsi : sebagai wadah menimbang dan menyimpan bahan kimia





33.


Pipet tetes

Bahan : kaca jenis soda kapur dan karet
Ukuran : panjang 150 mm, 1 ml = 20 tetes
Fungsi : untuk mengambil larutan dalam jumlah kecil dengan mengukur volume yang teliti
34.


Lumpang dan alu

Bahan : porselen, kaca, atau granit
Ukuran : diameter lumping 8 cm, panjang alu 9 cm
Fungsi : untuk menghancurkan dan menghaluskan bongkahan zat padat dengan cara digerus pakai alu
35.


Labu ukur

Bahan : kaca, sumbatnya kaca atau karet
Ukuran : 10 cm3, 25 cm3, 100 cm3, 250 cm3, 500 cm3, 1000 cm3
Fungsi : Membuat larutan dengan volume tertentu dan untuk pengenceran
36.



Gelas kimia

Bahan : kaca jenis borosilikat
Ukuran : 100 ml, 250 ml, 500 ml, 1000 ml
Fungsi : untuk mengukur volume larutan yang tidak memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi dalam jumlah tertentu
37.

pH meter

Bahan : plastic, besi, kawat
Ukuran : -
Fungsi : untuk mengukur pH suatu larutan, juga dapat digunakan sebagai voltmeter untuk tegangan rendah

38.

Spectronic 20

Bahan : logam atau alat listrik
Ukuran : -
Fungsi : untuk mengukur absorbansi larutan berwarna dalam proses spektrometri

39.

Pipa U

Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : -
Fungsi : sebagai alat elektrolisis beberapa larutan tertentu atau dalam proses jembatan


40.

Botol pembersih

Bahan : kaca jenis soda kapur
Ukuran : volume 250 ml, 500 ml, 1000 ml
Fungsi : untuk menyimpan zat hasil reaksi












DAFTAR PUSTAKA



Achmad, Hiskia.1993. Penuntun Dasar-Dasar Praktikum. Depdikbud

Anwar, Chairil dkk. 1996. Pengantar Praktikum Kimia Organik. Yogyakarta : Departemen Pendidikan dan Kedudayaan.
Dosen-Dosen Kimia Perguruan Tinggi Wilayah Barat. 1993. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. ITB: Bogor

Hadiat dkk. 1998. Daftar Alat-Alat Laboratorium Beserta Penjelasan. Jakarta : Argon Karya.
Indrawati dkk. 1998. Pendayagunaan Alat – Alat dan Bahan Praktikum Kimia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.














LAMPIRAN DISKUSI

Penanya : Desy Amelia (A1C310205)
Pertanyaan :- jelaskan mengapa alat – alat lab menggunakan bahan – bahan yang berbeda? Apakah akan mempengaruhi hasil percobaan?

Bagaimana cara kerja spektronik?
Jawaban : - karena alat – alat lab mempunyai fungsi yang berbeda – beda,jadi bahan – bahan yang digunakan harus menyesuaikan terhadap fungsi alat – alat lab. Tentu saja sangat mempengaruhi,karena penggunaan alat yang tidak sesuai akan mempengaruhi hasil percobaan. Misalnya, dalam penguapan kita tidak mungkin menggunakan alat yang terbuat dari bahan plastik.
Cara kerja spektronik adalah :

Cara kerja Spectronic 20 :

Periksa apakah instrumen dihidupkan. Tombol kiri-tangan harus diputar searah jarum jam. Biarkan 10 menit untuk pemanasan.

Atur panjang gelombang dengan nilai yang dikehendaki dengan menggunakan tombol di atas.


Dengan kompartemen sampel tertutup, putar tombol kiri untuk dapat membaca 0% T. Gunakan cermin di belakang jarum untuk menghindari kesalahan paralaks.

Lap kuvet dengan tisu kering untuk menghilangkan tetes larutan atau sidik jari.


Sejajarkan tanda pada kuvet dengan garis pada wadah sampel.
Masukkan kuvet diisi dengan pelarut dalam kompartemen sampel.
Tutup penutup.

Putar tombol kanan untuk mendapatkan pembacaan 100% T.

Untuk menganalisis sampel, masukkan kuvet sampel dan membaca nilai Absorbance pada skala. Gunakan cermin di belakang jarum untuk menghindari kesalahan paralaks.


Penanya : Sofia Indah Putri (A1C310201)
Pertanyaan : apa fungsi kran gas?
Jawaban : fungsi dari kran gas adalah untuk mengalirkan gas yang kita perlukan dalam percobaan.

Penanya : Putri Adeyantina (A1C310216)
Pertanyaan : apa saja alat – alat lab yang tahan terhadap panas?
Jawaban : alat – alat lab yang tahan terhadap panas antara lain:
Gelas kimia,labu distilasi, tabung reaksi, buret, thermometer, corong Buchner,lumping dan alu serta plat tetes.
Gelas kimia diktakan tahan terhadap panas, karena di tandai dengan pyrex.
Corong Buchner,lumping dan alu,serta plat tetes terbuat dari bahan porselen sehingga tahan terhadap suhu tinggi/panas.



PERCOBAAN II
Judul : Pemisahan dan pemurnian
Tujuan : Mempelajari teknik cara pemisahan dan pemurnian satu atau beberapa zat dari campuran zat.
Hari/tanggal : Sabtu/23 Oktoberi 2010
Tempat : Laboratorium Kimia FKIP UNLAM Banjarmasin


I. DASAR TEORI
Sebagian besar zat-zat di alam semesta masih bercampur dengan zat lain, khususnya zat-zat kimia baik anorganik maupun organik. Garam dapur dari laut masih bercampur dengan garam-garam yang lainnya, logam masih bercampur dengan pengotornya dalam bijihnya, gula tebu mash harus dipisahkan dari air tebunya dan sebagainya.
Untuk berbagai keperluan diperlukan zat murni, sehingga teknologi pemisahan dan pemurnian mutlak di perlukan untuk memperoleh zat murni dari campurannya.
Pemisahan dan pemurnian merupakan sesuatu hal yang sangat besar manfaatnya dalam pengembangan dan aplikasi ilmu kimia, hal ini akan terasa penggunaannya dalam analisis zat secara kualitatif dan secara kuantitatif. Ada beberapa cara yang lazim di gunakan untuk memisahkan campuran dari pengotornya, antara lain :
A.Ekstraksi
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain. Seringkali campuran bahan padat dan cair (bahan alami) tidak dapat atau sukar sekali dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis atau termis. Misalnya saja karena komponennya saling bercampur sangat erat, peka terhadap panas, beda sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi yang terlalu rendah.
Dalam hal semacam ini, seringkali ekstraksi adalah satu-satunya proses yang dapat digunakan atau yang mungkin paling ekonomis. Ekstraksi dapat dilakukan dengan berulang-ulang, dengan cara ini senyawa akan terekstraksi dengan lebih baik.
Teknik ekstraksi menggunakan corong pisah. Untuk menghindari adanya tekanan pelarut ketika mengocok, sesekali keran dibuka. Seringkali pada pengocokan yang keras terbentuk emulsi sehingga sulit terjadinya pemisahan. Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan pengadukan dengan gelas pengaduk, memutar larutan, pemusingan(setrifugasi), atau menambahkan garam. Langkah terakhir ini memberikan manfaat ganda yaitu mengurangi kelarutan solute dan ekstraktan dalam air. Peristiwa ini disebut efek garam(salting out).
B.KRISTALISASI DAN REKRISTALASI
Kristalisasi yaitu pemisahan zat padat dari campurannya berdasarkan kelarutan. kristalisasi dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Larutan yang dijenuhkan akan membentuk kristal padat. Pembentukkan kristal melalui rekristalisasi dimulai dari satu titik dan kemudian berkembang ke segala arah atau arah tertentu.Kristalisasi merupakan proses untuk memperoleh padatan dari larutan melalui proses penguapan.
Cara melakukan kristalisasi yaitu mula-mula molekul zat terlarut membentuk agregat dengan molekul pelarut, lalu terjadi kisi-kisi di zat antara molekul zat terlarut yang terus tumbuh membentuk kristal yang lebih besar di antara molekul pelarutnya. Kristal yang terbentuk disaring vakum dari larutannya menggunakan corong buchner.
Ada dua cara dalam melakukan rekristalasasi, yaitu :
Jika pengotornya sedikit larut dalam pelarut, langkah yang harus dilakukan yaitu campuran zat padat dengan pelarut panas di saring biasa hingga terpisahkan antara zat terlarut ( larutan ) dengan pengotornya ( tidak larut ). Kemudian mendinginkan dan menyaring zat terlarut dengan di isap hingga terbentuk pelarut dan krisal
Jika pengotornya lebih larut dalam pelarut, maka langkah yang harus di lakukan yaitu campuran zat padat dengan pelarut panas yang menghasilkan larutan, kemudian didinginkan dan di saring dengan di isap hingga terbentuk pelarut dan kristal.
Apabila larutan yang akan di kristalkan ternyata berwarna, padahal kita tahu zat padatnya tak berwarna, maka kedalam larutan panas sebelumnya di saring di tambahkan arang aktif. Tidak semua zat warna dapat di serap dengan baik. Zat warna yang tidak terserap ini akan hilang pada waktu pencucian dan penyaringan.
C.KROMATOGRAFI
Kromatografi merupakan cara paling modern dalam pemisahan dan pemurnian. Kromatografi yaitu pemisahan yang didasarkan pada perbedaan migrasi senyawa. Ada beberapa cara kromatografi, salah satunya adalah kromatografi kertas. Salah satu penggunaan kromatografi kertas adalah pemisahan zat warna dalam tinta hitam.
Pada dasarnya, teknik kromatografi ini membutuhkan zat terlarut terdistribusi diantara dua fase, satu diantaranya diam (fase diam), yang lainnya bergerak (fase gerak). Fase gerak membawa zat terlarut melalui media, hingga terpisah dari zat terlarut lainnya yang tereluasi lebih awal atau lebih akhir. Umumnya zat terlarut dibawa melewati media pemisah oleh cairan atau gas yang disebut eluen. Fase diam dapat bertindak sebagai zat penyerap atau dapat bertindak sebagai melarutkan zat terlarut hingga terjadi partisi antara fase diam dan fase gerak.

II.ALAT DAN BAHAN
Alat – alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
Tabung reaksi 3 buah
Pipet tetes 1 buah
Rak tabung 1 buah
Gelas ukur 1 buah
Neraca analis 1 buah
Kaca arloji 1 buah
Cawan porselin 1 buah
Corong biasa 2 buah
Gelas kimia 2 buah
Batang pengaduk 1 buah
Hot plate 1 buah

Bahan – bahan yang diperlukan dalam percobaan ini adalah :
Larutan KI 0,5molar
Kloroform ( CHCL4 )
Kertas saring 2 lembar
Aquades
Kristal ( I2 )
Garam dapur
Kertas kromatografi
CuSO4
III. PROSEDUR KERJA
Ekstraksi
Memisahkan I2 dari larutannya dengan pelarut CHCl3
Mengambil 3 tabung reaksi dan memberi label I, II, III.
Mengisi tabung I dengan 7,5 ml larutan KI dan menambahkan sebutir kristal I2, mengocok larutan hingga larut dan mengamati warna larutannya.
Memindahkan 5 ml larutan dari tabung I ke dalam tabung II, menambahkan 2 ml Kloroform (CHCl3) dan mengocok, mendiamkan sampai terbentuk 2 lapisan, mengamati warna larutan yang terjadi. Membandingkan warna larutan bagian atas dari tabung II dengan warna larutan dari tabung I. Mana yang lebih tua.
Memindahkan lagi separuh dari larutan bagian atas tabung II ke dalam tabung III. Menambahkan lagi 2 ml Kloroform (CHCl3), mengocok dan mendiamkan. Mengamati warna larutan yang terjadi, membandingkan dengan tabung II.
Menyimpulkan apa yang dapat diambil dari percobaan.

KRISTALISASI DAN REKRISTALASI
Memperoleh garam dapur bersih dari garam dapur kotor dan memurnikan CuSO4 melalui kristalisasi dan rekristalisasi.
Melarutkan 2 gram dapur kotor dalam 10 ml air dalam becker glass (menambahkan air jika belum larut).
Menyaring larutan garam tersebut beberapa kali dengan kertas saring (membasahi kertas saring sebelum digunakan). Menguapkan filtratnya hingga kering.
Membandingkan kristal garam dengan garam sebelumnya, mana yang lebih bersih?
Melarutkan 5 gr CuSO4 dengan 25 ml air. Menguapkan larutan ini hingga volumenya kurang dari 15 ml, menyaring dan mendinginkan sampai terbentuk kristal. Jika pada pendinginan ini belum terbentuk kristal, mendiamkan selama 1 malam. Membandingkan kristal yang terbentuk dengan kristal sebelumnya.


Kromatografi
Memisahkan komponen warna dari spidol dengan kormatografi.
Mengukur 1 cm dari kertas kromatografi, dan menotolkan spidol yang tersedia.
Menjepit ujung kertas yang lain dengan lidi.
Mencelupkan kertas sedemikian hingga totolan spidol tidak terendam air dan melakukan kromatografi hingga pelarut mencapai ujung kertas.
Mengamati pemisahan yang terjadi.

IV. HASIL PENGAMATAN
Ekstaksi
No. Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Tabung I
KI 0,5 M + sebutir kristal I2 Larutan KI mula-mula bening kemudian menambahkan sebutir kristal I2 larutan berubah menjadi kuning keemasan.
2. Tabung II
5 ml larutan dari tabung I + 2 ml CHCl3 Larutan membentuk 2 lapisan.
Lapisan bawah berwarna merah muda dan lapisan atas berwarna kekuning-kuningan. Warna larutan bagian atas tabung II lebih muda dibandingkan warna larutan tabung I.
3. Tabung III
Setengah larutan bagian atas tabung II + 2 ml CHCl3 Larutan membentuk 2 lapisan.
Lapisan atas bening dan bagian bawah berwarna merah muda lebih bening. Warna pada larutan tabung III lebih muda dibandingkan larutan tabung II dan I.

Kristalisasi dan Rekristalisasi
Memurnikan garam dapur
No. Perlakuan Hasil Pengamatan
1. 2 gr garam dapur kotor + 10 ml air Larutan garam kotor yang bening.
2. Menyaring larutan garam dengan kertas saring. Terbentuk filtrat yang bersih.
3. Menguapkan filtrat hingga kering. Larutan filtrat membentuk kristal yang lebih halus dan bersih.

Memurnikan CuSO4
No. Perlakuan Hasil Pengamatan
1. 5 gr CuSO4 + 25 ml air Serbuk CuSO4 berwarna biru tua. Larutan CuSO4 berwarna biru muda.
2. Menguapkan hingga volume kurang dari 15 ml. Warna larutan menjadi lebih tua dari sebelumnya yaitu menjadi biru tua.
3. Menyaring larutan CuSO4 dengan kertas saring. Terbentuk filtrat CuSO4.
4. Mendinginkan larutan. Larutan menjadi bongkahan kecil yang berwarna biru muda.
5. Membandingkan kristal yang terbentuk dengan kristal sebelumnya. Kristal berupa bongkahan yang lebih kecil daripada kristal CuSO4 yang terbentuk sebelumnya yaitu berupa bongkahan yang besar.


Kromatografi
No. Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Mengukur 1 cm kertas kromatografi dan menotolkan spidol hitam pada kertas kromatografi. Terbentuk komponen warna yaitu :
Hitam (warna awal)
Ungu
Coklat
Biru

Lintasan warna hingga 9 cm
2. Menjepit ujung kertas lain dengan lidi.
3. Mencelupkan kertas hingga totolan spidol tidak terendam air dan melakukan kromatografi hingga pelarut mencapai ujung kertas.
4. Mengamati perubahan yang terjadi.

V. ANALISIS DATA
A. Ekstraksi
Pada percobaan mengenai ekstraksi, larutan KI ditambahkan dengan sebutir kristal I2 di masukkan ke dalam tabung I dan mengocoknya. Setalah beberapa saat larutan menjadi berwarna kuning keemasan. Pada percobaan 5mL lrutan tabung I di tambahkan 2mL CHCl4 yang dicampur, kemudian di kocok dan di amati di tabung I ternyata membentuk dua lapisan yaitu lapisan atas berwarna putih bening dan lapisan bawahnya berwarna merah muda lebih bening. Jika di bandingkan warna larutan pada tabung I lebih tua di banding kan larutan tabung II. Sedangkan pada percobaan tabung III, separuh dari larutan bagian atas tabung II di tambahka 2mL CHCl4, kemudian di kocok dan didiam kan ternyata warna yang terjadi pada tabung III lebih muda dari tabung II. . Hal ini terjadi karena CHCl3 selalu ditambahkan pada tabung-tabung reaksi yang akan diuji sedangkan pelarut yang baik untuk ekstraksi seperti CHCl3 harus memiliki daya melarut zat terlarut lebih besar daripada pelarut semula. Jadi semakin banyak menambahkan CHCl3 maka daya melarut zat terlarut semakin besar daripada pelarut semula sehingga warna kekuning-kuningan akan semakin memudar.
Percobaan ini menunjukkan bahwa pemisahan campuran dengan cara ekstraksi berdasarkan perbedaan kelarutan komponen dalam pelarut yang berbeda, tetapi memiliki perbandingan yang tidak sama. Dalam suatu campuran ditambahkan pelarut yang mempunyai kemampuan melarutkan lebih besar dalam melarutkan senyawa, tetapi pelarut tidak bercampur dengan pelarut sebelumnya.
B. Kristalisasi dan Rekristalasi
Pada percobaan mengenai kristalisasi dan rekristalisasi. Melarutkan 2 g garam dapur kotor dalam becker gelas sehingga dihasilkan larutan yang kelihatan keruh, tetapi larutan garam tersebut disaring terus beberapa kali sehingga di didapat larutan yang lebih bersih dari keadaan sebelumnya, kemudian larutan diuapkan filtratnya hingga kering dan terbentuk kristal garam dan kristal yang terbentuk lebih bersih dibandingkan dengan garam sebelumnya
Pada percobaan 5 g CuSO4 ditambah 25 ml air dan menguapkan larutan hingga volumenya kurang dari 15 ml dan setelah disaring dan didinginkan selama satu malam terbentuk kristal yang warnanya lebih muda dibandingkan semula. Kristal CuSO4 ini berupa bongkahan yang lebih kecil dari sebelumnya yang berupa bongkahan yang lebih besar.
Pada percobaan air dan garam terjadi proses rekristalisasi yaitu memperoleh padatan dari larutan melalui proses penguapan berdasarkan perbedaan titik beku komponen garam dapat dipisahkan dengan air karena garam berupa padatan yang perbedaan titk bekunya cukup besar dengan air. Air garam yang dipanaskan atau diuapkan terus-menerus maka air akan menguap sedikit demi sedikit sampai larutan tepat jenuh dan dibiarkan akan terbentuk kristal garam. Kristal garam ini tentu saja lebih bersih dari larutan sebelumnya karena mengalami proses penyaringan atau pemurnian padatan menggunakan air tersebut.
Pada percobaan 5 g CuSO4 ditambah 25 ml air terjadi proses kristalisasi. Lerutan CuSO4 yang di panaskan terus-menerus airnya akan menguap sedikt demi sedikit dan terbentuk kristal yang berwarna biru. Kristal ini yang terbentuk warnanya lebih muda atau lebih bersih dari sebelumnya karena proses pembentukan kristal lebih lama.
C. Kromatografi
Pada percobaan kromatografi ini adalah kromatografi kertas. Mengukur kertas kromatografi sepanjang 1 cm dan menotolkan spidol hitam kemudian mencelupkan kertas kromatografi tersebut ke dalam air hingga totolan tidak terceluk air. Pada totolan spidol hitam menghasilkan komponen warna yaitu ungu, coklat, dan biru.
Dasar percobaan kromatografi ini adalah perbedaan fase gerak untuk membawa zat terlarut dalam fase diam atau perbedaan daya serap pada kertas. Pada percobaan ini akan terlihat komponen-komponen warna akan terpisah satu sama lain berdasarkan perbedaan daya serapnya pada kertas. Ini membuktikan bahwa suatu warna mempunyai komponen-komponen warna yang lain, tidak berupa hanya satu jenis warna saja. Jadi, warna-warna yang terurai adalah akibat dari proses pemurnian tersebut yang merupakan komponen satu warna dan naiknya air menyebabkan komponen penyusun warna terurai.
Harga Rf mengukur kecepatan bergeraknya zona relatif terhadap garis depan pengembang. Kromatogram yang dihasilkan diuraikan dan zona-zona dicirikan oleh nilai-nilai Rf. Nilai Rf didefinisikan oleh hubungan:
Rf=Jn/Jp=(9 )/(9 )= 1
VI. KESIMPULAN
Cara pemisahan dan pemurnian antara lain ektraksi, kristalisasi dan rekristalisasi, dan kromatografi.
Ekstraksi yaitu proses pemisahan komponen zat dari suatu campuran berdasarkan perbedaan kelarutan.
Pada percobaan ektraksi semakin banyak menambahkan CHCl3 maka daya melarut zat terlarut semakin besar daripada pelarut semula sehingga warna ungu semakin memudar.
Pada percobaan garam ditambahkan air, terjadi proses rekristalisasi. Kristal yang terbentuk lebih bersih dari kristal sebelumnya.
Pada rekristalasi peran air sebagai pelarut sangat penting karena syarat pelarut yang mampu memisahkan kristal dengan mudah harus memilki titik didih yang relatif rendah.
Pada percobaan CuSO4 ditambahkan dengan air terjadi proses kristalisasi. Kristal yang terbentuk berupa bongkahan kecil berwarna biru muda.
Kertas kromatografi di anggap sebagai fase diam dan air sebagai fase bergerak.
Pada totolan spidol hitam menghasilkan komponen warna yaitu ungu, coklat, dan biru.


VII.DAFTAR PUSTAKA
Achmad. Hiskia. 1993. Penuntun Dasar-Dasar Praktikum Kimia. Bandung: ITB.
Bettleheim & Lendersberg. 1996. Laboratory Experiment general, Organic and Biochemistry Fourth Edition, Harcourt Inc.
Sudjaji. 1988. Metode Pemisahan. Yogyakarta: Kanisius
Syahmani dan Leny. 2007. Petunjuk praktikum KimiaOrganik I. Banjarmasin: FKIP UNLAM
Syurki. 1999. Kimia Dasar. Bandung: ITB

LAMPIRAN
Sebutkan perbedaan kristalisasi dengan rekristalasi ?
Jelaskan prinsip ekstraksi ?
Pengertian destilasi ?

Jawab :
Kristalisasi adalah proses cara pembuatan menjadi kristal sedangkan rekristalasi suatu proses dimana butir logam yang terdefomasi di gantikan oleh butiran baru yang tidak terdeformasi yang intinya tumbuh sampai butiran asli termasuk di dalamnya.
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya. (Lucas, Howard J, David Pressman. Principles and Practice In Organic Chemistry)Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian rupa hingga memenuhi standar baku yang ditetapkan. Proses ekstraksi bahan atau bahan obat alami dapat dilakukan berdasarkan teori tentang penyarian. Penyarian merupakan peristiwa pemindahan massa. Zat aktif yang semula berada di dalam sel, ditarik oleh cairan penyari sehingga terjadi larutan zat aktif dalam cairan penyari tersebut.
Destilasi pertama kali ditemukan oleh kimiawan Yunani sekitar abad pertama masehi yang akhirnya perkembangannya dipicu terutama oleh tingginyya permintaan akan spritus. Hypathia dari Alexandria dipercaya telah menemukan rangkain untuk destilasi dan Zosimus dan Alexandria-lah yang telah berhasil menggambarkan secara akurat tentang proses destilasi pada sekitar abad ke -4. Bentuk modern destilasi pertama kali ditemukan oleh ahli – ahli kimia Islam pada masa Bani Abbasiah, terutama oleh Al – razi pada pemisahan alkohol menjadi senyawa yang relative murni melalui alat alembic,bahkan desain ini menjadi semacam inspirasi yang memungkankan rancangan destilasi skala mikro, The Hicman Stillhead dapat terwujud. Tulisan Jabir Ibnu Hayyan (721-815) yang lebih dikenal dengan Ibnu jabir menyebutkan tentang uapmanggur yang dapat terbakar, ia juga menemukan banyak peralatan dan proses kimia yang bahkan masih banyak sampai saat kini. Kemudian teknik penyulingan diuraikan dengan jelas oleh Al – Kindi (801-873).
Destilasi merupakan suatu teknik pemishan larutan yang berdasrkan pada perbedaan titik didhnya. Destilasi terfraksi digunakan untuk larutan yang mempunyai perbedaan titik didih yang tidak terlalu jauh sekitar 300 C atau lebih. Dasr pemisahan suatu campuran dengan destilasi adalah adanya perbedaan titik didh dua cairan atau lebih yang jika campuran tersebut dipanaskan,maka komponen yang titik didihnya yang lebih rendah akan menguap lebih dulu. Dengan mengatur suhu secara cermat, kita dapat menguapkan dan kemudian mengembunkan komponen – komponen secara bertahap.



Gambar 1.1 Alat dan Bahan Gambar 1.2 Hasil Ektraksi


Gambar 1.3 Gambar 1.4
Penyaringan larutangaram Membandingkan Kristal Garam



Gambar 1.5 Gambar 1.6
Memanaskan larutan CuSO4 Hasil Rekristalisasi CuSO4

Gambar 1.7 Proses Kromatografi Gambar 1.8 Hasil Kromatografi







FLOW CHART
PERCOBAAN I
PEMISAHAN DAN PEMURNIAN

Ekstraksi
Tabung I
Mengisi ke dalam tabung reaksi I
Mengocok larutan
Mengamati warna larutan


Tabung II
Mengisi kedalam tabung reaksi II
Mengocok larutan
Mendiamkan sampai terbentuk 2 lapisan
Mengamati warna larutan


Catatan : Menbandingkan warna bagian atas tabung I dan tabung II



Mengisi kedalam tabung reaksi II
Mengocok larutan
Mendiamkan sampai terbentuk 2 lapisan
Mengamati warna larutan



KRISTALISASI DAN REKRISTALASI

MEMURNIKAN GARAM DAPUR

Melarutkan kedalam becker glass
Larutan garam
Menyaring dengan kertas saring


Menguapkan hingga kering

Catatan : Membandingkan kristal garam dengan sebelumnya

MEMURNIKAN CuSO4
- Melarutkan kedalam becker glass



Menguapkan larutan hinggavolume 15 ml
Menyaring dengan kertas saring


Mendinginkan



Catatan :
Mendiamkan satu malam jika belum terbentuk kristal
Membandingkan kristal dengan kristal sebelumnya
C. KROMATOGRAFI

Mengukur 1 cm dari kertas kromatografi
Menotolkan spidol pada kertas

Menjepit ujung kertas lain dengan lidi
Mencelupkan kertas hingga totolan spidol tidak terendam air
Melakukan kromatografi hingga pelarut hingga ujung kertas
Mengamati pemisahan warna




PERCOBAAN III

Judul Percobaan : Reaksi-reaksi kimia
Tujuan Percobaan :1. Mengetahui perubahan-perubahan yang menunjukkan terjadinya reaksi-reaksi kimia
2.Mempelajari jenis-jenis reaksi kimia
Hari/Tanggal : Sabtu/30 0ktober 2010
Tempat : Labaratorium Kimia FKIP Unlam Banjarmasin

I. DASAR TEORI
Ilmu kimia mempelajari tentang peristiwa ikmia yang ditandai dengan berubahnya suatu zat menjadi zat lain .Contohnya padda pembakaran Etanol dan Oksigen berubah menjadi karbondioksida dan uap air .perubahan itu dapat dituliskan sebagai berikut:
CH4 + 2O2 → CO2 + 2H2O
Zat mula-mula disebut pereaksi dan zat yang terbentuk disebut hasil reaksi . Dalam reaksi diatas ,Etanol dan Oksigen merupakan pereaksi ,sedangkan Karbondioksida dan uap air sebagai hasil reaksi .
Reaksi kimia dialam terus berkembang dan zat-zat hasil reaksi dapat diketahui dengan mengamati perubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan-perubahan tersebut antara lain:
Terjadinya perubahan warna,
Terjadinya perubahan suhu,
Terbentuknya gas,dan
Terbentuknya endapan.
Reaksi kimia adalah suatu proses alam yang selalu menghasilkan perubahan senyawa kimia .Senyawa kimia ataupun senyawa awal yang terlibat dalam reaksi disebut sebagai reaktan .reaksi kimia biasanya dikarakterisasikan dengan perubahan kimiawi ,dan akan menghasilkan satu atau lebih produk yang biasanya memiliki ciri-ciri yang berbeda dari reaktan .
Secara klasik ,reaksi kimia melibatkan perubahan yang melibatkan pergerakan electron dalam pembentukkan dan pemutusan ikatan kimia ,walaupun pada dasarnya konsep umum reaksi kimia juga dapat diterapkan pada tranformasi partikel-partikel elementer seperti pada reaksi Nuklir.
Reaksi kimia dapat dibagi menjadi kelompok besar ,yaitu reaksi asam basa dan reaksi redoks .Secara garis besar terdapat perbedaan yang mendasar pada kedua jenis reaksi tersebut ,yaitu pada reaksi redoks terjadi perubahan bilangan oksidasi (biloks),sedangkan pada reaksi asam basa tidak ada perubahan biloks.
Ada pula dua jenis reaksi kimia biasa .jenis peertama adalah sintesis ,yakni satu jenis senyawa dari dua jenis zat atau lebih .jenis ini dinamakan Reaksi penggabungan .
A + Z → AZ
Jenis kedua disebut Reaksi Penguraian ,yakni terpecahnya satu senyawa menjadi dua zat atau labih ,biasanya dengan memasukkan kalor.
AZ → A + Z
Jenis ketiga dinamakan reaksi penggantian ,yaitu dimana satu unsur menggantikan unsure lain dalam senyawa .Unsur yang digantikan adalah unsur yang letaknya lebih bawah dalam Deret Elektromotif. (Deret Elektromotif : Li, K, Ba, Ca, Na, Mg, AL, Zn, Fe, Cd, Ni, Sn, Pb, H, Cu, Hg, Ag, Au).
A + BZ → AZ + B
Jenis keempat adalah Reaksi Penggantian rangkap ,dimana dua zat dalam larutan bertukar pasang antar anion.
AX + BZ → AZ + BX
Jenis kelima adalah Reaksi Netralisasi,yaitu dimana dau zat yaitu asam dan basa bereaksi membentuk garam dalam air.
HX + BOH → BX + H2O
Disamping kelima jenis reaksi itu,perlu pula dikaji reaksi reduksi oksidasi (redoks).Banyak logam bereaksi denagan asam membentuk garam dari logam tersebut dan gas hidrogen .Beberapa logam tidak aktif dapat bereaksi dengan asam Nitrat (NHO3) ,yang terjadi bukan hanya gas hidrogen melainkan Oksigen dan Nitrogen.
Reaksi kimia tidak dapat mengubah massa zat ,karena dalam reaksi hanya terjadi penataulangan atom-atom zat pereaksi membentuk susunan baru dalam zat hasil reaksi .Dengan demikian ,tidak ada atom yang hilang atau ercipta akibat berlangsungnya reaksi kimia .Keaadan ini harus tercermin pada persamaan reaksi.
Oleh karena itu ,pada persamaan reaksi tiap zat harus diberikoofesien ,yakni bilangan bulat ynag menyebabkan jumlah atom tiap unsure diruas kiri dan kanan persamaan reaksi sama.

II. ALAT DAN BAHAN
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
Pipet Tetes 2 Buah
Rak Tabung Reaksi 1 Buah
Tabung Reaksi 4 Buah
Gelas ukur berukuran 10 mL 2 Buah

Sedangkan bahan yang diperlukan adalah :
Larutan HCl 0.1 N dan 1,0 M
Larutan Al2(SO4)3 0,1 M
Larutan Asam Sulfat (H2SO4) 0,1 M
Larutan CH3COOH 0,1 M
Larutan K2CrO4 0,1 M
Larutan NH4OH 1 M
Larutan KMnO4 0,1 M
Larutan NaOH 0,1 N dan 1,0 M
Larutan K2Cr2O7 0,1 M
Larutan H2C2O4 0,1 M
Indikator PP

III. PROSEDUR KERJA
Kedalam dua tabung reaksi memasukkan masing-masing 1 mL HCl 0,1 N dan CH3COOH 0,1 M.menambahkan masing-masing dua tetes indicator PP .Mengamati apa terjadi.
Kedalam dua tabung reaksi yang lain memasukkan denagan tetep masing-masing 1 mL NaOH 1 N,menambahkan dua tetes indicator PP .Mengamati perubahan yang terjadi.
Mencampurkan masing-masing larutan dari prosedur 1 dan 2 .Mengamati perubahan terjadi.
Memasukkan kedalam dua tabung reaksi masing-masing 1 mL larutan K2Cr2O7 0,1 M.Pada tabung 1 menambahkan HCl 1 M dan pada tabung 2 menambahkan dengan NaOH 1 M.Mengamati perubahan warna terjadi.
Kedalam tabung reaksi yang lain memasukkan masing-masing 1 mL larutan K2CrO4 0,1 M dan memperlakukan seperti prosedur diatas(No.4).Menyimpulkan dari kedua kegiatan ersebut.
Memasukkan kedalam 1 tabung reaksi masing-masing 1 mL Al2(SO4)3 0,1 M.Menambahkan tetes demi tetes NaOH hingga terbentuk endapan pada salah satunya menambahkan NH4OH dengan perlakuan yang sama.
Memasukkan kedalam tabung reaksi 1 mL larutan asam oksalat (H2Cr2O4) 0,1 M dan menambahkan 0,5 mL asam sulfat 0,1 M.Meneteskan larutan KMnO4 sambil mengocok.Mengamati perubahan yang terjadi.







IV. HASIL PENGAMATAN

No Percobaan Hasil Pengamatan
1 Memasukkan masing-masing 1 mL HCl 0,1 N dan CH3COOH o,1 M ke dalam 2 tabung reaksi, lalu meneteskan masing-masing 2 tetes indikator PP. Larutan HCl yang ditetesi 2 tetes indikator PP tidak mengalami perubahan warna karena setelah diteteskan tidak mengalami perubahan indikator PP warnanya tetap bening seperti semula.
Larutan CH3COOH yang ditetesi 2 tetes indikator PP mengalami perubahan warna, dari warna bening menjadi putih keruh.
2 1 mL NaOH 0,1 M + 2 tetes indikator PP Mengalami perubahan warna dari warna bening menjadi menjadi warna ungu tua, lama-kelamaan menjadi warna ungu muda.
3 (HCl+ Indikator PP) + (NaOH + Indikator PP)
(CH3COOH + Indikator PP) + (NaOH + Indikator PP) Warnanya menjadi ungu muda.
Warnanya menjadi ungu tua.







4 Masing-masing 1 mL K2CrO4 0,1 M + HCl 1 M
K2CrO4 1 mL 0,1 M + NaOH 1 M Mengalami perubahan warna, dari warna kuning berubah menjadi warna jingga.
Tidak mengalami perubahan warna, dari warna kuning didiamkan untuk beberapa saat tidak berubah menjadi warna yang lain.
5 1 mL K2Cr2O7 0,1 M + HCl 1 M
1 mL K2Cr2O7 0,1 M + NaOH 1 M Tidak mengalami perubahan warna (tetap berwarna jingga).
Mengalami perubahan warna, dari warna jingga menjadi warna kuning.
6 1 mL Al2(SO4)3 0,1 M + NaOH 1 M
1 mL Al2(SO4)3 0,1 M + NH4OH 1 M Terjadi endapan berwarna putih keruh.
Terjadi endapan berwarna putih keruh dan lebih keruh.

7 1 mL larutan H2C2O4 0,1 M + 0,5 mL H2SO4
H2C2O4 0,1 M + H2SO4 0,1 M + KMnO4 Tidak mengalami perubahan warna (tetap warna putih bening).
Terjadi perubahan warna, dari putih bening menjadi ungu tua.







V. ANALISIS DATA
Pada prosedur pertama, di dalam tabung reaksi 1 mL larutan HCl 0,1 M di tambah 2 tetes indikator PP tidak mengalami perubahan warna karena setelah diteteskan, warnanya tetap bening seperti semula. Sedangkan pada tabung reaksi 2, 1 mL CH3COOH ditambah 2 tetes indikator PP menghasilkan larutan yang awalnya berwarna bening menjadi putih keruh. Dilihat dari keduanya, terjadinya perbedaan hasil larutan pada tabung 1 terdapat larutan HCl yang merupakan asam kuat. Sedangkan pada tabung 2 terdapat CH3COOH yang merupakan basa lemah. Diketahui bahwa indicator PP merupakan asam dioptri yang tidak berwarna yang berfungsi untuk mengetahui apakah suatu larutan bersifat asam, basa, atau netral. Maka pada kedua larutan tersebut dapat terlihat perbedaan yang jelas yaitu bening dan putih keruh.
Pada prosedur dua, yakni 1 mL NaOH 0,1 M + 2 tetes indikator PP menghasilkan warna ungu tua, yang lama-kelamaan menjadi warna ungu muda pada tabung reaksi 3 dan 4. Dari percobaan tersebut dapat diketahui bahwa NaOH merupakan basa kuat. Hal ini dapat dilihat dari hasil warna yang menyolok, yaitu ungu tua. Berdasarkan penjelasan sebelumnya bahwa indicator PP merupakan penguji, pakah larutan itu asam, basa, atau netral. Dari sini dapat dianalisis bahwa larutan yang bersifat basa lemah, basa kuat, asam lemah, dan asam kuat mempunyai perbedaan warna, yaitu basa lemah menyolok, basa kuat kurang menyolok, asam lemah sangat keruh dan asam kuat kurang keruh atau bening.
Pencampuran antara larutan HCl (tabung 1) dengan larutan NaOH (tabung 3) menghasilkan warna ungu muda, sedangkan pencampuran antara larutan CH3COOH (tabung 2) dengan larutan NaOH (tabung 4) menghasilkan warna ungu tua. 2 reaksi tersebut termasuk reaksi penetralan yang merupakan asam kuat+basa kuat dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
HCl + NaOH  NaCl + H2O




CH3COOH yang ditambah NaOH menjadi basa kuat dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
CH3COOH + NaOH  CH3COONa + H2O
Garam yang dihasilkan adalah garam CH3COONa yang ditambah dengan air dan warna larutannya menjadi lebih tua. Perubahan warna pada reaksi tersebut dipengaruhi oleh pH, asam kuat mempunyai pH tinggi sehingga menghasilkan warna yang menyolok sedangkan yang ber-pH rendah menghasilkan warna yang kurang menyolok.
Pada pencampuran K2CrO4 0,1 M yang ditambah dengan larutan HCl 1 M mengalami perubahan warna, yang awalnya berwarna kuning berubah menjadi jingga. Ini disebabkan karena adanya penambahan biloks (bilangan oksidasi) dari K2CrO4menjadi K2Cr2O7 dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
2 K2CrO4 + 2 HCl  K2Cr2O7 + 2 KCl + H2O
Sedangkan pencampuran K2CrO4 0,1 M yang bertambah dengan Larutan NaOH tidak terjadi perubahan warna, tetap berwarna kuning. Dapat dianalisis bahwa NaOH tidak memberikan pengaruh apa-apa pada reaksi tersebut.
Pencampuran K2Cr2O7 0,1 M dengan HCl 1 M menghasilkan warna jingga, sedangkan pada pencampuran K2Cr2O7 0,1 M dengan NaOH 1 M menghasilkan warna kuning. Hal ini terjadi karena pada reaksi ini stabil dalam suasana asam.
K2Cr2O7 + 2 HCl  2 KCl + H2Cr2O7
K2Cr2O7 + 2 NaOH  2 KOH + 2 CrO3 + Na2O
Dari persamaan-persamaan reaksi di atas dapat diketahui bahwa dalam suasana basa ion dikarbonat yang berwarna jingga berubah menjadi ion kromat yang berwarna kuning.
Al2(SO4)3 + 6 NaOH  2 Al(OH)3 + 3 Na2SO4
Dari reaksi di atas aluminium sulfat + natrium hidroksida terbentuk endapan Al2(SO4)3 berwarna putih keruh. Ini menunjukkan bahwa basa kuat (NaOH) ditambah dengan aluminium sulfat akan terjadi Al3+ bermuatan positif akan segera menarik ion-ion OH- dari NaOH membentuk Al(OH)3 berbentuk solid. Apabila dilanjutkan dengan penambahan NaOH maka endapan akan hilang karena senyawa natrium aluminat merupakan senyawa yang mudah larut dalam air karena mengandung kation alkali yaitu Na+. Kemudian Al2(SO4)3 + NH4OH larutan kembali menjadi cair namun ada sedikit endapan yang tersisia dan lebih jernih di bagian atasya.
Al2(SO4)3 + NH4OH  2 AlOH3 + 3 (NH4)2SO4
Pengendapan terjadi karena ion Al3+ dari aluminium sulfat menarik ion OH- dan NH4OH membentuk endapan AlOH3 yang berbentuk solid.
H2C2O4 + H2SO4 dicampurkan lebih dulu berwarna bening kemudian ditetesi dengan KMnO4 yang berwarna ungu, setelah larutan tersebut dikocok, larutan tidak mengalami perubahan warna. Dan pada reaksi H2C2O4 + H2SO4 + KMnO4 menghasilkan warna ungu tua. Hal ini terjadi karena KMnO4 terurai menjadi ion K+ dan ion Mn2+ (oksidator) H2C2O4 merupakan reduktor. Bilangan oksidasi Mn2+ menjadi Mn+ menyebabkan warna berubah-ubah. Reaksi ini dapat dikatakan sebagai reaksi redoks.
H2C2O4+H2SO4+ KMnO4  MnO2 + K2SO4 + CO2 + H2O

VI. KESIMPULAN
Dari eksperimen tersebut kini dapat ditarik kesimpulan, yakni :
Perubahan-perubahan reaksi kimia di tandai dengan adanya perubahan warna, perubahan suhu, terjadinya endapan, dan terbentuknya gas.
Reaksi kimia dapat digolongkan menjadi reaksi sintesis, reaksi penetralan, reaksi redoks (reduksi oksidasi), dan reaksi pembentukan kompleks.
Reaksi redoks terjadi karena adanya peristiwa pengurangan dan penambahan bilangan oksidasi.
Reaksi penetralan dapat terjadi antara larutan yang bersifat basa dan larutan yang bersifat asam yang membentuk garam dan air.
Pada larutan yang diteteskan dengan indikator PP tidak terjadi reaksi kimia karena warnanya akan tetap, sedangkan pada larutan yang bersifat basa akan terjadi reaksi kimia yang ditandai dengan terjadinya perubahan warna menjadi ungu.


VII. DAFTAR PUSTAKA

Adelyra, Rara. 2010. Makalah Reaksi Kimia (online). http://radelyrachemistry.blogspot.com/2010/12/makalah-reaksi-kimia.html
Diakses Pada Tanggal 01 Januari 2011

Ahmad, Hiskia. 1993. Penuntun Dasar-Dasar Praktikum Kimia. Bandung: ITB

Anonim. 2007. Reaksi-Reaksi Kimia (online). http://www.scribd.com/doc/16383788/Reaksi-reaksi-Kimia
Diakses Pada Tanggal 01 November 2010

Anonim. 2008. Asam Basa (online). http://dennifa.com.files.wordpress.com/2008/06/asam-dan-basa.pdf Diakses pada Tanggal 06 November 2010

Anonim. 2008. Reaksi Kimia (online). http://id.wikipedia.org/wiki/Reaksi-Kimia
Diakses Pada Tanggal 01 November 2010

Anonim. 2008. Reaksi Redoks (online).
http://id.wikipedia.org/wiki/redoks?wasRedirected=true
Diakses Pada Tanggal 01 November 2010

Lestari, Sri. 2003. Kumpulan Rumus Kimia SMA. Jakarta: Kawan Pustaka

Syahmani. 2010. Panduan Praktikum Kimia Dasar. Banjarmasin: FKIP UNLAM

Syukri. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung: ITB












LAMPIRAN DISKUSI

Penanya : Irmayanti
Pertanyaan : Mengapa pada reaksi asam basa tidak terjadi perubahan biloks (bilangan oksidasi)?
Jawaban : Pada reaksi asam basa tidak terjadi perubahan biloks (bilangan oksidasi) karena pada umumnya ion H+ dan ion OH- pada senyawa asam dan basa bilangan oksidasinya tidak berubah. Begitu juga dengan unsur lainnya yang ada di dalam senyawa asam maupun basa, semuanya memiliki bilangan oksidasi namun tidak terjadi perubahan di setiap reaksinya.

Penanya : Akhmad Gajali
Pertanyaan : Jelaskan apa yang dimaksud dengan reaksi sintesis dan reaksi penguraian? Berikan Contoh persamaan reaksinya!
Jawaban : Reaksi sintesis merupakan suatu reaksi dimana sebuah zat yang lebih kompleks terbentuk dari dua atau lebih zat yang lebih sederhana (baik unsur maupun senyawa). Sedangkan reaksi penguraian merupakan suatu reaksi dimana suatu zat dipecah menjadi zat- zat yang lebih sederhana.
Contoh persamaan reaksinya;
Reaksi Sintesis:
2 H2 + O2  2 H2O
Reaksi Penguraian:
2 Ag2O  4 Ag + O2

Penanya : Wardatul Ilmah
Pertanyaan : Jelaskan apa yang dimaksud dengan reaksi redoks dan reaksi asam basa? Berikan Contoh persamaan rekasnya!
Jawaban : Reaksi Redoks (Reduksi Oksidasi) merupakan suatu reaksi tang mengalami perubahan bilangan oksidasi (keadaan oksidasi) atom-atom yang terjadi secara bersamaan dalam sebuah reaksi kimia. Sedangkan reaksi asam basa merupakan suatu reaksi dimana senyawa asam bereaksi dengan senyawa basa membentuk garam.

Contoh persamaan reaksinya;
Reaksi Redoks: Fe2O3 + 3 CO  2 Fe + 3 CO2
Reduksi
Oksidasi
Reaksi Asam Basa: CH3COOH + NaOH  CH3COONa + H2O
CH3COOH adalah senyawa asam (Asam Lemah)
NaOH adalah senyawa Basa ( Basa Kuat)
CH3COONa adalah senyawa garam yang bersifat Basa
H2O adalah air.












Gambar percobaan reaksi – reaksi kimia

















FLOWCHART
PERCOBAAN III
REAKSI – REAKSI KIMIA


1.Kegiatan I
a.Tabung Reaksi c. Tabung reaksi 3


-Mengamati apa yang terjadi - mengamati apa yang terjadi


mencampurkan dengan - mencampurkan
larutan 3 dengan larutan 4


b.Tabung Reaksi 2 d. tabung reaksi 4



-Mengamati perubahan - Mengamati perubahan
yang terjadi yang terjadi
- Mencampurkan - Mencampurkan
dengan larutan 3 dengan larutan 3
2. Kegiatan II

a.Tabung Reaksi 1 b.Tabung Reaksi 2
-Mengamati perubahan - Mengamati perubahan
warna yang terjadi warna yang terjadi


c.Tabung Reaksi 3 d.Tabung Reaksi 4
- Mengamati perubahan - Mengamati perubahan
warna yang terjadi warna yang terjadi

3.Kegiatan III


Memasukkan kedalam 2 tabung reaksi
Mengamati perubahan yang terjadi
Hingga terbentuk endapan pada salah satu hilang
Membagi larutan menjadi 2

Mengamati perubahan warna
yang terjadi

4. Kegiatan IV


-Mengocok larutan
-Mengamat perubahan yang terjadi



















PERCOBAAN IV

Judul Percobaan : Variasi Kontinu
Tujuan Percobaan : Untuk mempelajari stiokiometri sistem CuSO4, NaOH dan Stiokiometri asam basa
Hari/Tanggal : Sabtu/4 Desember 2010
Tempat : Laboratorium Kimia FKIP Unlam Banjarmasin

DASAR TEORI
Ilmu kimia adalah ilmu yang berlandaskan pada percobaan, setelah mempelajari beberapa bulan, seseorang dapat menuliskan beberapa senyawa, tetapi dapatkah anda membuktikan rumus suatu zat yang anda tulis dengan data pengamatan?
Dalam metode variasi kiontinu dilakukan sederetan pengamatan yang kuantitatif berubah-ubah (variasi). Salah satu sifat sistem kimia dipilih untuk diperiksa, seperti massa, volume, suhu, atau daya serap. Oleh karena kuantitas molar reaksi berlainan, perubahan harga sifat dari sistem ini digunakan unutk meramalkan stiokiometri sistem.
Bila digambarkan grafik secara fisik yang diamati atau diukur terhadap kuantitas pereaksinya, maka akan diperoleh suatu titik maksimum atau minimum yang sesioa dengan titik stiokiometri sistem, yang menyatakan perbandingan pereaksi-pereaksi dalam senyawa.
Dasar percobaan ini adalah metode job atau metode variasi kontinu. Dalam metode ini dilakukan sederetan pengamatan yang kuantitas molar totalnya sama, tetapi masing-masing kuantitas molar pereaksinya berubah-ubah (bervarias). Salah satu sifat fisika tertentu fipililh untuk diperiksa. Perhatikan misalnya percobaan untuk sistem perak nitrat kallium kromat air dengan metode variasi kontinu. Volume dan jumlah mol dari 0,24 M larutan AgNO3 dan 0,24 M K2CrO4 yang digunakan untuk kesembilan percobaan.
Konsentrasi pereaksi-pereaksi dibuat sehingga pada setiap percobaan, jumlah mol pereaksi total sama dengan 1,2 x 10-2 volume pereaksi total sama dengan 50,0 ml. Tatapi untuk deret itu seluruhnya jumlah mol AgNO3 bervariasi dengan 10,8 x 10-3 sampai 1,2 x 10-3 sampai 10,8 x 10-3 dan jumlah mol K2CrO4 bervariasi dari 10,8 x 10-3 sampai 1,2 x 10-3.
Sesudah mengikat kuantitas-kuantitas pereaksi itu dicampur, maka endapan yang terjadi disaring ”Dicuci”, kemudian dikeringkan dan ditimbang massa endapan terhadap jumlah mol AgNO3.
Stiokiometri merupakan kajian tentang hubungan bobot dalam reaksi-reaksi kimia, yang berarti mengukur undur. Topik ini merupakan dasar untuk menentukan komponen senyawa dan campuran , dan dapat digunakan untuk memperkirakan hasil dalam pembuatan senyawa kimia. Perhitungan ini jmerupakan hasil dalam perbuatan senyawa kimia. Perhitungan ini merupakan dasar dari koknsep mol, dan digunakan untuk mengembangkan persamaan kimia.
Mengubah Mol ke Gram
Dalam ilmu kimia, mol adalah satuan pengukuran jumlah yang standar. Ketika kita merasakan zat-zat tertentu, zat-zat tersebut bereaksi dengan perbandingan mol yang bulat dan sederhana, tetapi kita tidak bisa mengatur jumlah zat-zat tersebut secara alangsung dengan neraca, karena neraca hanya bisa dibaca dalam satuan kimia yaitu mol.
Masalahnya adalah kita membandingkan jumlah satu zat denga zat lainnya dengan menggunakan satua kimia yaitu mol, sementara untuk bekerja dilaboratorium kita tidak bisa menggunakan mol melainkan dengan satuan massa yaitu gram.
Bagaimana cara mengatasi masalah tersebut? Caranya adalah kita harus mengubah mol ke gram.
Sesuai diferensi massa molar unsur atau senyawa, dimana satu mol unsur atom atau senyawa diperoleh jika kita menimbang unsur atau senyawa tersebut sebesar massa atom relatif atau massa rumus ralatifnya dalam gram. Oleh karena itu, kita memerlukan data massa molar zat tersebut untuk bis mengubah mol zat tersebut ke gram.
Begitupun sebaliknya jika kita harus menghitung jumlah zat mol dari gram suatu zat kita juga dapat menggunakan data massa molar.
Stiokiometri berdasarkan tiga konsep
Kekekalan Massa
Salah satu hukum dasr alam adalah hukum kekalan massa. Massa tidak dapat diciptakan atau dihancurkan. Bila hukum ini dipergunakan dalam reaksi kima, maka massa total dari produk harus sama dengan massa total reaktan. Hubungan antara kuantitas produk dan reaktan ini sangat penting sebab hal ini sangat penting untuk m engetahui reaktan mana yang harus ada dalam jumlah berlebihan. Sebab tergantung pada jumlah relatif dari reaktan yang pipergunakan kadang-kadang memberikan keadaan yang berlainan.
Massa Atom Relatif
Massa atom relatif dengan lambanag Ar adalah istilah modern sebagai pengganti istilah berat alam.
Pada permulaan abad ke-19 hydrogen diginakan sebagai unsur standar. Dalton menekankan bahwa massa atom adalah sifat yang paling utama suatu unsur Hydrogen adalah unsur yang mempunyai atom yang paling ringan dan massanya ditentikan sebesar satu-satuan.
Menurut definisi lama:
Massa atom relatif=(Massa satu atom unsur)/(Massa satu atom Hydrogen)
Konsep Mol
Dalam ilmu kimia, satuan jumlah azt yang akan kita pakai adalah “Mol”. Satuan mol adalah julah azt yang mengandung 6,02 x 1023 butir partikel. Zat apa saja akan dikatakan berjumlah satuan mol, asalkan jumlah partikelnya 6,02 x 1023. Satu mol besi mengadung 6,02 x 1023 Molekul air, satu molekul elektron mengadung 6,02 x 1023butir elektron dsb.
Mol adalah jumlah zat suatu sistem yang mengandung sejumlah besaran elementer (atom, molekul, dsb) sebanyak atom yang trerdapat 12 gram tepat isotop karbon -12 (12C).
Jumlah besaran elementer ini disebut tetapan Avogadro. 6,02 x 1023 merupakan “bilangan Avogadro”.
Penerapan Konsep Mol Pada Gas
Perdamaan gas ideal yang terkena adalah PV = nRt dengan “R” adalah tetapan jumlah mol gas pada tekanan standar 1 atm dan suhu 273 k (STP), satu mol gas menempati volume 22,414 L, biasanya secara sederhana digunakan 22,4 L.

Penerapan Konsep Mol Pada Larutan
Larutan satu molar (M) adalah larutan yang mengandung satu mol zat terlarut dalam 1 liter larutan.
kemolaran=mol/liter=mmol/ml
kemolaran=(konsentrasi dalam 2 per 1)/(massa molar zat terlarut)
Jumlah mol zat terlarut yang terdapat dalam sejumlah larutan dapat dinyatakan dengan:
Jumlah mol=kemolaran x volume

ALAT DAN BAHAN
Alat-alat yang digunakan
Gelas kimia 4 Buah
Gelas ukur 4 Buah
Batang pengaduk 2 Buah
Pipet tetes 4 Buah
Termometer alkohol 2 Buah
Termometer air raksa 2 Buah
Baskom 2 Buah
Bahan-bahan yang digunakan
Larutan NaOH
Larutan CuSO4
Larutan HCl
Air

PROSEDUR KERJA
Stiokiometri sistem CuSO4-NaOH
Memasukkan masing-masing 50 ml NaOH 0,1 M dan 10 Ml CuSO4 0,1 M ke dalam dua gelas kimia yang berisi larutan kedalamnya dengan mencelupkan gelas kimia yang berisi larutan kedalam air bersama-sama. Mencatat temperaturnya (temperatur awal).
Sambil mengaduk, mencampurkan kedua larutan dan mencatat suhu tertinggi yang dicapai (temperatur akhir)
Mengulangi dengan prosedur yang sama dengan perbandingan volume sesuai tabel pengamatan, mencabut tempertur yang didapat dari percobaan tersebut.
Membuat grafik yang menghubungkan volume sistem sebagai absis terhadap ΔT.
Membuat kesimpulan mengenai stiokiometri sistem diatas.

Stiokiometri sistem asam kuat-basa kuat (NaOH-HCl)
Kedalam 2 gelas kimia memasukkan masing-masing 40 ml NaOH 1 M dan 20 Ml HCl 1 M. Menyamakan temperaturnya dan mencata sebagai temperatur awal.
Sambil mengaduk, mencampurkan kedua larutan dan mencatat suhu tertinggi yang dicapai (temperatur akhir)
Mengulangi dengan prosedur yang sama dengan perbandingan volume sesuai tabel pengamatan, mencabut tempertur yang didapat dari percobaan tersebut.
Membuat grafik yang menghubungkan volume sistem sebagai absis terhadap ΔT.
Membuat kesimpulan mengenai stiokiometri sistem diatas. Jika sistem diganti dengan NaOH dan H2SO4 dengan konsentrasi yang sama. Memprediksikan perbandingan volume kedua larutan yang menghasilkan titik stiokiometri.

HASIL PENGAMATAN
Stiokiometri NaOH-CuSO4
No NaOH (ml) CuSO4 (ml) Tm (Suhu Awal) Ta (Suhu Akhir) ΔT
1
2
3
4
5
6
7
8
9 50
45
40
35
30
25
20
15
10 10
15
20
25
30
35
40
45
50 29°C
29°C
28,5°C
29°C
29°C
29°C
29,5°C
29°C
29°C 28,5°C
29°C
29°C
29°C
29,5°C
29°C
29,5°C
29°C
29°C - 0,5°C
0°C
0,5°C
0°C
0,5°C
0°C
0°C
0°C
0°C

Stiokiometri Sistem NaOH-HCl
No NaOH (ml) CuSO4 (ml) Tm (Suhu Awal) Ta (Suhu Akhir) ΔT
1
2
3
4
5 40
35
30
25
20 20
25
30
35
40 30°C
29°C
29°C
29°C
29°C 30°C
31°C
32°C
32°C
31°C 0°C
2°C
3°C
3°C
2°C

ANALISIS DATA
Percobaan ini adalah untuk mempelajari stiokiometri sistem NaOH-CuSO4 dan stiokiometri asam basa yang dilakukan dengen metode variasi kontinu. Dimana untuk melakukan sederetan reaksi diperlukan volume larutanyang bervarias jumlahnya. Pereaksi tersebut adalah larutan NaOH, CuSO4 dan HCl.
Berdasarkan hasil pengamatan, apabila NaOH bereaksi dengan CuSO4, maka akan menghasilkan Na2SO4 + Cu(OH)2 sesuai dengan reaksi persamaan reaksi titik stiokiometri.
Karena volume reaksi berbeda-beda (bervariasi). Maka setiap perubahan nilai dapat dipakai untuk meramalkan stiokiometri sistem. Untuk mendapatkan jumlah mol dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
Mol = Molaritas (Mol/l) x Volume (l)
NaOH CuSO4 Perbandingan
50
45
40
35
30
25
20
15
10 10
15
20
25
30
35
40
45
50 5 : 1
3 : 1
2 : 1
1,4 : 1
1 : 1
1 : 1,4
1 : 2
1 : 3
1 : 5

Dari tabel pengamatan sebelumnya dapat diketahui bahwa titik maksimum terbentuk pada saat pencampuran NasOH sebanyak 40 ml, sedangkan CuSO4 sebanyak 20 ml. Dan sesuai dengan reaksi tersebut, perbandingan adalah 2 : 1 yang dipenuhi pada saat pencampuran 40 ml NaOH dengan 20 Ml CuSO4.
Jadi perbandingan mol yang sesuai dengen koefisienpada reaksi diatas. Maka massa pada reaksi diatas dihitung sebagai berikut:
Mol NaOH = M x V = 0,1 x 0,04 = 0,004 mol
Massa NaOH = n x Mr = 0,004 x 40 = 0,16 gr

Mol CuSO4 = M x V =0,1 x 0,02 = 0,002 mol
Massa CuSO4 = n x Mr = 0,002 x 159,5 = 0,319 gr
Karena koefisien Na2SO4 dan Cu(OH)2sama dengan koefisien CuSO4 maka untuk perbandingan nilai molnya pun sama:
Massa Na2SO4= mol x Mr = 0,002 x 142 = 0,284 gr
Massa Cu(OH)2= mol x Mr = 0,002 x 97,5 = 0,195 gr
Massa pereaksi dengan massa hasil reaksi:
Massa Pereaksi = Massa Hasil Reaksi
Massa (NaOH + CuSO4) = Massa (Na2SO4 + Cu(OH)2)
0,16 + 0,319 = 0,284 + 0,195
0,479 gr = 0,479 gr
Dari hasil perhitungan, terbukti bahwa pada massa pereaksi sama dengan massa hasil reaksi. Hal ini berkaitan erat hubungannya dengan hukum kekekalan massa yang merupakan dasar-dasar perhitungan dasar kimia pada ruang lingkup stiokiometri.
Dari hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa titik maksimum terbentuk pada saat pencampuran NaOH sebanyak 40 ml, dan 30 ml sedangkan CuSO4 sebanyak 20ml dan 30 ml.













Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa terjadi variasi suhu. Namun, variasi suhu yang diperoleh ini, tidak dapat dinyatakan kebenarannya karena terjadi akibat kesalahan dalam perilaku termometer. Sehingga suhu yang diperoleh tidak mengalami perubahan yang signifikan, bahkan tetapi tidak terjadi perubahan.
Percobaan kedua adalah stiokiometri sistem asam kuat – basa kuat (NaOH-HCl) dengan volume masing-masing 40 ml dan 20 ml dengan konsentrasi 1 M. Maka yang dilakukan sama dengan percobaan pertama yaitu menyamakan temperaturnya dengan mencelupkan gelas kimia yang berisi larutan ke dalam air bersama-sama dan diperoleh temperatur awal yaitu 30°C. Setelah dicampurkan kedua larutan menghashilkan temperatur 30°C. sehingga ΔT adalah 0°C.
ΔT = Ta-Tm
= 30°C – 30°C
= 0°C
Langkah selanjutnya yaitu melakukan perlakuan yang asma terhadap larutan NaOH dan HCl denga volume yang bervariasi, sehigga suhu yang diperoleh (ΔT) bervariasi pula.
Perubahan ΔT dapat dilihat pada data pengamatan. Sehingga dapat dibuat grafik yang menghubungkan volume sistem sebagai absis terhadap ΔT sebagai koordinat.











Dari grafik diatas terlihat bahwa terjadi variasi ΔT yang dikarenakan oleh perbedaan jumlah volume sehingga mol yang diperoleh juga berbeda-beda. Hal inilah yang berpengaruh terhadap perubahan temperatur.
Dari hasil pengamatan dan percobaan diperoleh persamaan reaksi NaOH dan HCl yaitu sebagai berikut:
NaOH + HCl →NaCl + H2O
Perbandingan koefisien pada persamaan reaksi diatas adalah 1 : 1, berarti perbandingan molnya 1: 1. Hal ini berarti reaksi yang berada pada titik stiokiometri adalah larutan yang memiliki perbandingan mol 1 : 1, perbandingan mol dapat dilihat dari tabel di bawah.
NaOH HCl Perbandingan
40
35
30
25
20 20
25
30
35
40 2 : 1
1,4 : 1
1 : 1
1 : 1,4
1 : 2
Dari tabel diatas terlihat bahwa yang memiliki volume 1 : 1 adalah larutan NaOH dan HCl pada saat volumenya 30 ml. Disinilah diperoleh titik stiokiometri yaitu pada titik maksimum dengan ΔT = 3 °C.
Sedangkan massa yang diperoleh pada titik itu adalah sebagai berikut:
Mol NaOH = M x V = 1 x 0,03 = 0,03 mol
Massa NaOH = n x Mr = 0,03 x 40 = 1,2 gr
Mol HCl = M x V = 1x 0,03 = 0,03 mol
Massa HCl = n x Mr = 0,03 x 36,5 = 1,095 gr
Karena semua koefisien sama maka pereaksi maupun hasil reaksi sama. Perbandingan molnya sama.
Massa NaCL = n x Mr = 0,03 x 58,5 = 1,755
Massa H2O = n x Mr = 0,03 x 18 = 0,54
Massa Pereaksi = Massa Hasil Reaksi
Massa (NaOH + HCl) = Massa (NaCl + H2O)
1,2 + 1,095 = 1,755 + 0,54
2,295 gr = 2,295 gr
Dari hasil perhitungan terbukti bahwa titik stiokiometri massa pereaksi sama dengan massa reaksi. Hasil ini berkaitan dengan hukum kekekalan massa yang merupakan dasar-dasar perhitungan dalam reaksi kimia pada ruang lingkup stiokiometri larutan.

KESIMPULAN
Membuktikan suatu rumus suatu zat yaitu dengan metode variasi kontinu dengan stiokiometri CuSO4-NaOH dan stiokiometri NaOH-HCl.
Dalam metode variasi kontinu dilakukan sederetan pengamatan yang kuantitas molar totalnya sama, tetapi masing-masing kuantitas molar pereaksinya berubah-ubah (bervariasi)
Untuk melakukan sederetan reaksi, diperlukan volume larutan yang bervariasi jjumlahnya. Dalam percobaan ini pereaksinya adalah larutan CuSO4, NaOH dan HCl.
Volume reaksi yang berbeda-beda, maka setiap perubahan nilai dipakai untuk meramalkan stiokiometri sistem.
Untuk mendapatkan jumlah mol digunakan rumus mol = molaritas (mol/l) x volume (l).
Massa pereaksi sama dengan massa hashil reaksi dan dari hasil pengamatan di lihat bahwa terjadi variasi suhu.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Hiska. 1993. Penuntun Dasar-Dasar Prektikum Kimia. Bandung ITB
Dosen-dosen Kimia di Perguruan Tinggi Indonesia Wilayah Barat. 1994. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Bandung : ITB
Tim Kimia Dasar. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia Dasar I dan II. Banjarmasin : UNLAM











LAMPIRAN
Gambar percobaan Variasi Kontinu


Mengukur larutan dalam gelas ukur. Memasukkan larutan ke dalam gelas kimia.


Menyamakan temperaturnya dengan mencampurkan kedua larutan.
memasukkan ke dalam air.


Larutan setelah dicampur. Mengukur suhu larutan setelah dicampur


FLOW CHART
PERCOBAAN IV
VARIASI KONTINU
Stiokiometri Sistem CuSO4-NaOH
Gelas Kimia I Gelas Kimia II













Catatan:
Mengulangi prosedur A dengan perbandingan volume sesuai tabel pengamatan
Mencabut temperatur yang didapat dari percobaan tersebut
Membuat grafik yang menghubungkan volume sistem sebagai absis terhadap ΔT
Membuat kesimpulan mengenai prosedur A

Stiokiometri sistem asam kuat-basa kuat (NaOH-HCl)
Gelas Kimia I Gelas Kimia II













Catatan :
Mengulangi prosedur B dengan komposisi volume larutan seperti tabel pengamatan
Membuat grafik yangmenghubungkan volume sistem sebagai absis terhadap ΔT sebagai koordinat
Memberikan kesimpulan mengenai prosedur B
Mengganti sistem dengan NaOH dan H2SO4 dengan konsentran yang sama dan memprediksikan perbandingan volume kedua larutan yang menghasilkan titik stiokiometri.







PERCOBAAN V

Judul Percobaan : Analisis Melalui pengendapan
Tujuan Percobaan :1. Mengendapkan Barium klorida dan menentukan persentase hasil dan barium kromat.
2. Mendalami dan menggunakan hukum stoikiometri dalam reaksi kimia.
Hari/tanggal : Sabtu/ 11 Desember 2010
Tempat : laboratorium kimia FKIP Unlam Banjarmasin


DASAR TEORI
Kelarutan zat sangat beragam, ada zat yang mudah larut dan ada pula zat yang sukar larut. Pada umumnya kelarutan bertambah pada kenaikan suhu, dan juga suatu larutan itu dipengaruhi oleh ph larutan.
Istilah kelarutan digunakan untuk menyatakan jumlah maksimum zat yang dapat larut dalam sejumlah pelarut tertentu/larutan pada suhu tertentu.
Suatu zat akan mengendap jika hasil kali konsentrasi lebih besar dari KSP (Konstanta hasil kali kelarutan) dan dinyatakan dalam mol -1, jadi kelarutan sama dengan kemolaran dari kelarutan jenuhnya. Dalam keadaan jenuh terdapat kesetimbangan antara zat padat tak larut dengan larutannya.
Pada percobaan ini, larutan Barium Klorida diendapkan dengan kalium kromat,dengan reaksi :
BaCl2 + K2CrO4 BaCrO4 + 2KCl
Endapan Barium kromat disaring, hasil teoritis Barium kromat dihitung dari endapan yang terbentuk,semua Barium klorida dianggap berubah menjadi hasil – hasil teoritis ditentukan dan stoikiometri reaksi.
Konsentrasi kesetimbangan antara BaCl2 dan K2CrO4 dalam larutan jenuhdapat dikaitkan dengan kelarutan BaCrO4, yaitu sesuai dengan stoikiometri reaksi (perbandingan koefisien reaksinya). Secara umum, hubungan antara kelarutan (s) dengan tetapan hasil kali kelarutan (ksp) untuk elektrolit dipengaruhi oleh temperatur, semakin tinggi temperatur, umumnya harga ksp semakin besar dalam konsentrasi ion – ion. Untuk zat yang sukar larut maka kelarutannya kecil.
Setiap elektrolit mempunyai suatu besaran yang disebut diawal yaitu ksp atau hasil kali kelarutan. Ksp juga dapat didefinisikan sebagai hasil kali konsentrasi ion – ion suatu elektrolit dalam larutan yang tepat jenuh. Nilai ksp untuk elektrolit sejenis, semakin besar menunjukkan semakin mudah larut. Kelarutan (s) merupakan konsentrasi maksimum zat pelarut.
Harga ksp dapat digunakan untuk menentukan kelrutan suatu zat. Sebaliknya, kelarutan suatu zat dapat digunakan untuk memenuhi harga ksp kelarutan maupun hasil kali kelarutan dapat dihitung dan larutan jenuhnya.
Adanya ion sejenis dalam larutan menyebkan konsentrasi salah satu ion menjadi besar., sehingga ion yang lain menjadi lebih kecil. Hal ini menyebabkan hasil kali kelarutan sama dengan harga kspnya. Adanya penambahan ion sejenis (senama) pada pelarut akan memperkecil kelarutan. Penambahan tersebut menggeser kesetimbangan. Jika keadaan larutan elektrolit yang sukar larut ditambahkan larutan yang mempunyai ion yang sama, maka kesetimbangan akan bergeser dan arahnya akan bertambah atau bergeser kea rah zat yang mengendap. Hal ini sesuia dengan prinsip Chatelier,di man system pada keadaan seimbang menanggapi peningkatan satu pereaksinya dengan cara menggeser kesetimbangan kea rah dimana pereaksi tersebut diberi aksi.
Kelarutan suatu zat dalam suatu pelarut dipengaruhi oleh suhu. Perbedaan kelarutan suatu zat terhadap suhu ini menjadi dasar metode pemisahan campuran yang disebut dengan kristalisasi fraksional. Dengan metode ini, produk yang tidak murni mula – mula dilarutkan dalam sedikit pelarut panas (biasanya adalah pelarut yang kurang melarutkan produk yang diinginkan, tetapi banyak melarutkan pengotor). Pada saat larutan panas menjadi dingin, produk murni memisah dari campuran dan emninggalkan pengotor. Akhirnya, Kristal produk disaring dari larutan dingin dan dikeringkan.
Sesuai dengan azas Chatelier tentang pergeseran kesetimbangan, penambahan konsentrasi ion akan menggeser kesetimbangan. Akibat dari pergeseran itu, maka zat yang larut menjadi berkurang, dapat disimpulkan bahwa ion senama memperlecil kelarutan.
Bila sejumlah garam dapur dilarutkan ke dalam air dan ada sebagian yang tidak larut maka larutan tersebut merupakan larutan jenuh. Bila ke dalam larutan jenuh NaCl ditambahkan lahi sedikit Nacl, maka NaCl yang ditambahkan tersebut tidaj bisa melarut namun tetap sebagi endpan Kristal NaCl. Konsentrasi zat terlarut di dalam larutan jenuh sama dengan kelrutannya. Besar kelrutan suatu zat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
Jenis pelarut
Senyawa polar (mempunyai kutub muatan) akan mudah larut dalam senyawa polar. Misalnya gula, NaCl, alkohol, dan semua asam merupakan senyawa polar. Sehingga mudah larut dalam senyawa air yang juga merupakan senyawa polar.
Senyawa non polar akan mudah larut dalam senyawa non polar, misalnya lemak mudah larut dalam minyak. Senyawa non polar umunya tidal larut dalam senyawa polar, misalnya NaCl tidak larut dalam minyak tanah.
Suhu
Kelarutan zat padat dalam air semakin tinggi bila suhu dinaikkan. Adanya panas (kalor) mengakibatkan semakin renggangnya jarak antar molekul zat padat tersebut. Merenggangnya jarak antara molekul zat padat menjadikan kekuatan gaya antar molekul tersebut menjadi lemah sehinnga mudah terlepas oleh gaya tarik molekul – molekul air. Berbeda dengan zat padat, adanya pengaruh kenaikan suhu akan menyebabkan kelarutan gas air berkurang. Hal ini disebabkan karena gas yang tersebut dalam air akan terlepas meninggalkan air bila suhu meningkat.

Analisis melalui pengendapan adalah suatu cara untuk menghitung persentase dari suatu zat yang mengendap. Suatu zat akan mengendap apabila hasil kali kelarutan ion – ionnya lebih besar dari pada harga ksp (tetapan hasil kali kelrutan). Nilai ksp untuk elektrolit sejenis semakin besar menunjukkan semakin mudah larut. Kelarutan sama dengan kemolaran dari larutan jenuhnya.
Secara umum hubungan antara kelarutan (s) dengan tetapan hasil ksp dinyatakan sebagai berikut :
KSp = (n-1)n-1 Sn
Dimana n adalah jumlah ion elektrolit. Jika diketahui konsentarsinya, maka :
AxBy X Ay++ Y Bx-
Ksp AxBy = [Ay+] [Bx-]y
[Ay+] [Bx-]y = ksp AxBy
Larutan tepat jenuh (tidak terjadi endapan)
[Ay+] [Bx-]y < ksp AxBy Larutan belum jenuh (tidak terjadi endapan) [Ay+] [Bx-]y > ksp AxBy
Larutan lewat jenuh (terjadi pengendapan

Adanya penambahan ion senama (sejenis) pada pelarut akan menggeser kesetimbangan ke kiri. Kelrutan suatu elektrolit juga dipengaruhi oleh ph larutan. Keberadaan ion H+ akan mengikat anion, dan menyebabkan lebih banyak garam yang larut.
Jika suatu endapan mempunyai hasil kali kelarutan yang rendah dan endapan tersebut terbentuk dari larutan yang agak pekat, maka kelewat jenuh nisbinya akan tinggi. Sebaliknya, kelewat jenuhan nisbunya rendah, maka jumlah inti yang terbebtuk juga kan rendah.

ALAT DAN BAHAN

Alat – alat yang digunakan dalam percobaan adalah :
Gelas piala/gelas kimia 250 ml 2 buah
Pipet tetes 3 buah
Hot plate 1 buah
Batang pengaduk 1 buah
Kaca arloji 1 buah
Corong 1 buah
Neraca analitik 1 buah
Gelas ukur 2 buah
Spatula 1 buah
Bahan – bahan yang digunakan dalam percobaan adalah :
Serbuk/butiran BaCl2
Aquades
Larutan K2CrO4 0,2 M
Kertas saring

PROSEDUR KERJA
Menimbang kira – kira 1 gr (0,8 sampai 1,2) BaCl2 dan memasukkan ke dalam gelas piala 250 ml. kemudian menambahkan 25 ml air suling, mengaduk – aduk sampai larutan homogen, sesudah itu memasukkan lagi K2CrO4 0,2 M sebanyak 25 ml, mengaduk – aduk dan mengamati endapan yang terbentuk.
Menguji larutan dengan beberapa tetes larutan K2CrO4, apakah larutan terbentuk (jika endapan dan BaCrO4 masih terbentuk,menambahkan terus K2CrO4 sampai BaCrO4 tidak terbentuk lagi)
Memanaskan sampai mendidih, mengangkat dari api dan menyaring selagi masih panas dengan kertas saring yang telah ditimbang massanya.
Mengambil kertas saring beserta endapannya, mengeringkan, menimbang dan mencatat bobotnya.
Menghitung hasil teoritis endapan BaCrO4 dan menentukan juga persentase hasilnya dengan rumus :

% hasil BaCrO4 =

HASIL PENGAMATAN

No. Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Menimbang Bacl2 1,1297 gr
2. Memasukkan BaCl2 1,1297 gr + 25 ml aquades kedalam gelas kimia Larutan homogen berwarna bening
3. Menambahkan larutan BaCl2 dengan K2CrO4 sebanyak 25 ml Warna larutan berubah perlahan – lahan dari warna bening menjadi kuning susu
4. Mengaduk larutan BaCrO4 dan mengamati apa yang terjadi Terbentuk endapan dari larutan BaCrO4
5. Menambahkan terus tetes demi tetes K2CrO4 sampai tidak terbentuk lagi endapan (20 tetes) Endapan tidak terbentuk lagi, warna larutan pada bagian atsnya berubah menjadi kuning muda
6. Menimbang kertas saring 0,5413 gr
7. Memanaskan larutan BaCrO4 sampai mendidh, kemudian mengangkat dari api dan menyaringnya selagi panas Menghasilkan larutan berwarna bening (filtratnya) dan endapan (residunya) di atas kertas saring yang berwarna kuning

Berat BaCl2 = 1,1297 gr
Berat kertas saring = 0,5413 gr
Berat kertas saring + endapan = 0,6944 gr
Berat endapan BaCrO4 (hasil nyata) = 0,1531 gr
Berat endapan BaCrO4 (hasil teoritis) = 1,35759 gr
Persentase hasil BaCrO4 = 11,12 %.
ANALISIS DATA

Pada percobaan ini, serbuk BaCl2 ditimbang dan didapat hasil penimbangan sebanyak ± 1,1 gr. Kemudian BaCl2 tersebut dimasukkan ke dalam gelas kimia, dan untuk melarutkannya ditambahkan aquades sebanyak 25 ml, kemudian diaduk – aduk untuk menjadikan larutannya homogen. Larutan homogen merupakan penggabungan antara2 zat atau lebih yang semua partikelnya menyebar merata. Berdasrkan hasil dari pencampuran ini, diperoleh larutan yang berwarna bening.
Senyawa- senyawa ion yang yang terlarut di dalam air atu aquades, akan terurau menjadi partikel dasr pembentuknya yang berupa ion positif dan ion negative. Bila ke dalam system tersebut ditambhakan air atau aqyades, mak serbuk BaCl2 akan segera terionisasi dan sebaliknya bila air dalam larutan tersebut diupkan maka ion – ion akan segera membentuk butiran. Hal inilah yang menyebabkan ketika larutan BaCl2 tersebut dipanaskan membentuk endapan pada bagian dasarnya. Dalam peristiwa ini terjadi system kesetimbangan antara zat padat dengan ion – ionnya dalam larutan.
Setelah larutan tadi homogeny, kemudian ditambahkan dengan larutan K2CrO4. Reaksi yang terjadi menyebabkan warna larutan berubah menjadi kuning keruh dan terdapat endapan di dasarnya. Kemudian mengujinya dengan tetesan K2CrO4 sebanyak 20 tetes sampai endapan tidak terbentuk lagi dan larutan pada bagian atasnya berwarna kuning muda. Penambahan ion CrO42- akan menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kiri dan menyebabkan bertambahnya BaCrO4 yang mengendap. Oleh karena itu penambahan dihentikan jika endapan tidak terbentuk lagi dan laritan bagian atas bening. Persamaan reaksinya :

BaCl2 . 2 H2O + K2CrO4 BaCrO4 + 2 KCl + 2 H2O

Endapan terjadi karena hasil kali ion – ion BaCrO4 lebih besar daripada hasil kali kelarutan (ksp) BaCrO4, sehingga menyebabkan kelebihan ion pada Ba2+ dan CrO42- akan bergabung membentuk endapan BaCrO4. Maksudnya, ion ba2+ dari BaCl2 dan ion CrO42- dari KrCrO4 akan bergabung membentuk endapan BaCrO4 dan hasil kali konsentrasi ion – ionnya tersebut akan lebih besar jika dibandingkan dengan kspnya, hal inilah yang akan menyebabkan terjadinya pengendapan.
[Ba2+][CrO42-] > Ksp BaCrO4
Langkah selanjutnya adalah memanaskan larutan besarta endapannya dengan menggunakan hotplate. Setelah mendidih, larutan diangkat dan langsung disaring ketika msih panas dengan menggunakan kertas saring. Tujuan dari penyaringan ini adalah untuk memisahkan antara larutan (filtrat) dan endapan (residu). Sedangkan tujuan dari pemansan larutan adalah agar didapat partikel – parikel yang besar sehinnga memudahkan dalam penyaringan. Pembesarn partikel terjadi karena terjadinya penumpukkan ion – ion pada partikel besar di mana ion – ion tersebut membantu partikel – partikel besar untuk mencapai kesetimbangan.
Penyaringan dilakukan dalam keadaan panas dimaksudkan agar tidak ada endapan yang tertinggal, karena apabila penyaringan dilakukan pada saat sudah dingin, akan banyak endapan tertinggal digelas kimia. Proses penyaringan dilakukan beberapa kali sampai endapan terpisah dari larutan. Setelah disaring, didapatkan larutan yang berwarna bening. Hal ini disebabkan karena larutan dan endapan sudah terpisah dan penyaringan dilakukan secara sempurna. Larutan yang didapatkan adalah larutan KCl. Sedangkan endapan yang tersaring di atas kertas saring berwarna kuning.
Selanjutnya, kertas saring diambil beserta endapannya untuk dikeringkan selama satu malam. Pengeringan dilakukan untuk memisahkan air, sehingga molekul – molekul air yang yang terikat pada endapan terlepas,selain itu endapannya juga menjadi lebih murni.
Endapan yang telah dikeringkan tersebut kemudian ditimbang bersama kertas saring, hasil penimbangan didapatkan bahwa beratnya 0,6944 gr dan berat nyata endapan BaCrO4adalah 1,375 gr dan presentase hasil yang didapatkan adalah 11,12 %. Presentase hasil yang didapatkan sangat jauh dari 100 %. Kemungkinan disebabkan adanya kesalahan pada saat penyaringan, di mana ada endapan atau sisanya yang masih tertinggal pada gelas kimia, sehingga menyebabkan hasil (berta nyata) yang didpatkan kurang dari berat nyata yang seharusnya.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah :
Pengendapan Barium klorida didapat dari reaksi pengendapan Barium klorida dengan Kalium kromat dan menghasilkan endapan Barium kromat dan larutan Kalium klorida
Pengendapan terjadi apabila hasil kali konsentrasi ion – ion senyawanya lebih besar dari pada hasil kali kelarutannya.
Penambahan ion CrO42- dan K2CrO4 akan menggeser kesetimbangan ke arah kiri dan menyebabkan endapan BaCrO4 terus terbentuk.
Untuk memperoleh endapan murni BaCrO4, dilakukan penyaringan ketika larutan masih panas agar sisa – sisa endapan tidak tertinggal di dalam gelas kimia.
Hasil teoritis Barium kromat dapat dihitung berdasarkan perbandingan mol dan koefiseian pada persamaan reaksi.
Presentase hasil Barium kromat dapat dihitung menggunakan rumus berikut :

% hasil baCrO4 = berat nyata x 100 %
berat teorits
Hasil presentase yang didapat jauh dari 100 % yaitu 11,12 %, disebabkan adanya kesalahan praktikan pada waktu percobaan.







DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Hiskia.1993.Penuntun Dasar – Dasar Praktikum Kimia.Jakarta :Depdikbud.

Achmad, Hiskia. 1991.Stoikiometri Energetika Kimia.Bandung:PT. Citra Aditya Bakti.

Respati.1986.Dasar – Dasar Ilmu Kimia.Yogyakarta:UGM.

Rival, harizzul.1995.Asas Pemeriksaan Kimia.jakarta:UI.Press.

Sudarmo, unggul.2007.Kimia Untuk SMA Kelas XI.Surakarta:Phibetta.

Syukri,S.1999.Kimia Dasar I.bandung:ITB.

Syahmani.2010.Panduan Praktikum Kimia Dasar.Banjarmasin:FKIP Unlam.














LAMPIRAN

-Berat nyata BACrO4
Diketahui : berat kertas saring = 0,5413 gr
Berat kertas saring + endapan = o,6944 gr
Jadi, berat nyata endapan BaCrO4 adalah
= (berat kertas saring + endapan) – berat kertas saring
= 0,6944 – 0,5413
=0,1531 gr
-Berat teoritis endapan BaCrO4
Diketahui : berat BaCl2 = 1,1297 gr
Mr BaCl2 =208,24
Mr BaCrO4 =253,34
Persamaan reaksi :
BaCl2 + K2CrO4 BaCrO4 + 2 KCl
-Mol BaCl2 = massa BaCl2
Mr BaCl2
= 1,1297
208,24
= 0,0054 mol
Mol BaCrO4 = koefisien BaCrO4 X mol BaCl2
koefisien BaCl2
=1/1 x 0,0054 mol
=0,0054 mol
Berat teoritis BaCrO4 = mol BACrO4 X Mr BaCrO4
= 0’0054 X 253,34
= 1,357 gr
-Persentase hasil BaCrO4
Diketahui : berat nyata = 0,1531 gr
berat teoritis = 1,375 gr
persentase hasil BaCrO4 = berat nyata X 100%
berat teoritis
= 0,1531 X 100 %
1,375
= 11,12 %














* Pertanyaan
Mengapa pada percobaan filtrate hasil penyaringan ada yang berwarna putih (bening) dan ada yang berwarna kekuningan ?
Jawab :
Karena kemungkinan ada kesalahn pada saat penyaringan, dan juga pada saat pemanasan. Sudah diangkat dari api sebelum mendidih sehingga partikel – partikelnya masih kecil ( belum menjadi besar ) dan bisa lolos melewati kertas saring. kemungkinan juga pada saat penambahan atau penetesan K2CrO4 endapan masih terbentuk (reaksi belum mencapai kesetimbangan) sehingga masih ada ion – ion kromat yang melarut, seharusnya K2CrO4 terus diteteskan sampai endapan tidak terbentuk lagi (sudah mencapai kesetimbangan).

















Gambar – Gambar Percobaan Analisis Melalui Pengendapan






























FLOW CHART
PERCOBAAN V
ANALISIS MELALUI PENGENDAPAN


Menimbang
Memasukkan ke dalam gelas piala 250 ml

Menambahkan
Mengaduk – aduk sampai larutan homogen



Mencampurkan
Mengaduk – aduk
mengamati









menguji larutan hingga larutan dari BaCrO4 tidak terbentuk lagi


- memanaskan sampai mendidih
- mengangkat dari api

menyaring dengan kertas saring yang telah ditimbang massanya


- mengambil kertas saring dan endapan
- mengeringkan

- menimbang
-mencatat bobotnya
* menghitung hasil teoritis endapan BaCrO4 dan menentukan presentase hasilnya dengan rumus : % hasil BaCrO4 = berat nyata X 100 %
berat teoritis

PERCOBAAN VI

Judul : Titrasi Asam Basa
Tujuan : Menentukan konsentrasi suatu larutan asam atau basa dengan menggunakan titrast asam basa dengan indicator dan pH meter
Hari / Tanggal : sabtu / 11 desember 2010
Tempat : Laboratorium Kimia PMIPA FKIP unlam Banjarmasin


I. DASAR TEORI
Teori Asam Basa Menurut Arrhenius, Bronsted- Lowry dan Lewis
Teori Asam-Basa Arrhenius
Dalam tahun 1887 Svante Arrhenius mempostulatkan bahwa bila molekul elektrolit dilarutkan dalam air, akan terbentuk ion-ion negative dan positif. Menjelang akhir abad ke-19 definisi asam dan basa dinyatakan dalam teori pengionan Arrhenius. Asam Arrhenius ialah zat yang melarut ke dalam air untuk memberikan ion-ion H+, dan basa Arrhenius ialah zat yang melarut ke dalam air untuk memberikan ion-ion OH-. ( Keenan, 1984: 408)
Asam
Menurut Arrhenius, asam adalah zat yang dalam air melepaskan ion H+. Dengan kata lain, pembawa sifat asam adalah ion H+. Asam Arrhenius dapat dirumuskan sebagai HxZ dan dalam air mengalami ionisasi sebagai berikut.
HxZ  xH+ (aq) + Zx- (aq)
Contoh :
Asam cuka (CH3COOH) dan asam klorida (HCl) di dalam air mengion sebagai berikut.
CH3COOH (aq)  CH3COO- (aq) + H+ (aq)
HCl (aq)  H+ (aq) + Cl- (aq)
Jumlah ion H+ yang dapat dihasilkan oleh satu molekul asam disebut valensi asam, sedangkan ion negatif yang terbentuk dari asam setelah melepas ion H+ disebut ion sisa asam. Nama asam sama dengan nama ion sisa asam dengan didahului kata asam.

Basa
Menurut Arrhenius, basa adalah senyawa yang dalam air dapat menghasilkan ion hidroksida (OH-). Jadi, pembawa sifat, basa adalah ion OH-. Basa Arrhenius merupakan hidroksida logam, dapat dirumuskan sebagai M(OH)x, dan dalam air mengion sebagai berikut.
M(OH)x (aq)  Mx+ (aq) + xOH- (aq)
Jumlah ion OH- yang dapat dilepaskan oleh satu molekul basa disebut valensi basa.( Michael Purba, 2007: 172)
Teori Asam-Basa Bronsted-Lowry
Pada tahun 1923, Johanes N. Bronsted dan Thomas M. Lowry dalam waktu yang bersamaan, walaupun bekerja sendiri-sendiri, mengajukan konsep asam-basa berdasarkan pemindahan proton (H+). Menurut bronsted dan Lowry, asam adalah spesi yang memberi proton, sedangkan basa adalah spesi yang menerima proton pada suatu reaksi pemindahan proton.
Asam Bronsted-Lowry = donor proton
Basa Bronsted-Lowry = akseptor proton
Perhatikan beberapa contoh berikut.
HCl (benzene) + NH3 (benzene)  NH4Cl (s)
Asam Basa
NH4+ (aq) + H2O (l)  NH3 (aq) + H3O+ (aq)
Asam Basa
HSO4- (aq) + CO32- (aq)  SO42- (aq) + HCO3- (aq)
Asam Basa
H2O (l) + NH3 (aq)  NH4+ (aq) + OH- (aq)
Asam Basa
Pada contoh-contoh di atas, terlihat bahwa air dapat bersifat sebagai asam (donor proton) dan sebagai basa (akseptor proton). Zat atau spesi seperti itu bersifat amfiprotik.
Sifat amfiprotik dari air dapat menjelaskan sifat asam-basa suatu zat dalam air. Zat yang bersifat asam memberi proton kepada molekul air, sedangkan zat yang bersifat basa menarik proton dari molekul air.
Konsep asam-basa dari Bronsted dan Lowry ini lebih luas daripada konsep asam-basa Arrhenius karena:
Konsep asam-basa daari Bronsted-Lowry tidak terbatas dalam pelarut air, tetapi juga menjelaskan reaksi asam-basa dalam pelarut lain atau bahkan reaksi tanpa pelarut.
Asam dan basa dari Bronsted-Lowry tidak hanya berupa molekul tetapi dapat juga berupa kation atau anion. Konsep asam-basa dari Bronsted dan Lowry dapat menjelaskan, misalnya, sifat asam dari NH4Cl. Dalam hal NH4Cl, yang bersifat asam adalah ion NH4+ karena dalam air dapat melepas proton.( Michael Purba, 2007: 195)

Teori Asam-Basa Lewis
Gilbert N. Lewis memberikan pengertian asam dan basa berdasarkan serah terima pasangan elektron sebagai berikut.
Asam : Akseptor pasangan elektron
Basa : Donor pasangan elektron
NH3 + H+  NH4+
Jadi, pada persamaan di atas, NH3 adalah suatu basa karena memberi pasangan elektron, sedangkan ion H+ adalah suatu asam karena menerima pasangan elektron. Semua asam - basa Arrhenius maupun asam-basa Bronsted-Lowry memenuhi pengertian asam basa Lewis.
Konsep asam-basa Lewis dapat menjelaskan reaksi-reaksi yang bernuansa asam-basa meskipun tidak melibatkan proton (ion H+), misalnya reaksi antara oksida basa dengan oksida asam.
Contoh :
CaO + CO2  CaCO3 ( Michael Purba, 2007: 199)

Titrasi Asam dan Basa
Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan dianalisis. ( Keenan, 1984: 422)
Prinsip Titrasi Asam basa
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.
Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen (artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”.
Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant.
Titrasi Asam Basa Menggunakan Indikator
Titrasi ini berdasarkan reaksi netralisasi asam dengan basa, pada titik ekivalen (sama tepat atau sesuai) dengan jumlah basa yang dipakai, untuk menentukan titik ekivalen ini biasanya dipakai suatu indkator asam basa, yaitu suatu zat yang dapat berubah warnanya tergantung pada pH larutan. Macam indikator yang kita pilih harus sedemikian sehingga pH pada titik ekivalen titrasi terdapat pada daerah perubahan warna indikator, jika pada suatu titrasi dengan indikator tertentu terjadi perubahan warna maka titik akhir telah tercapai. Jadi, titik akhir titrasi adalah saat timbulnya perubahan warna indikator yang dipakai. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik ekivalen dan selisihnya disebut kesalahan titrasi.
Untuk menentukan konsentrasi suatu larutan asam atau basa diperlukan suatu larutan baku yaitu suatu larutan yang diketahui konsentrasinya dan biasanya berupa larutan asam basa yang mantap (konsentrasinya tidak berubah). Sebagai larutan baku primer dapat dipakai larutan asam oksalat. (Tim Kimia Dasar, 26: 2010)
Indikator yang sering digunakan dalam titrasi asam basa yaitu indikator fenolftalein. Tabel berikut ini merupakan karakteristik dari indikator fenolftalein.
pH < 0 0−8.2 8.2−12.0 >12.0
Kondisi Sangat asam Asam atau mendekati netral Basa Sangat basa
Warna Jingga Tidak berwarna pink keunguan Tidak berwarna
Gambar

Titrasi Asam Basa Menggunakan pH Meter
pH meter adalah alat yang dapat digunakan untuk menentukan pH larutan sevara mudah, sederhana dan cepat pH meter juga dapat digunakan untuk mengikuti titrasi asam basa, dalam hal ini dapat dianggap suatu indikator tertentu. Pada dasarnya pH meter terdiri atas dua elektroda dan satu voltmeter untuk mengukur beda potensial (antara potensial dalam elektroda pertama dan potensial elektroda yang lain), salah satu elektroda disebut elektroda indikator yang peka terhadap keasaman disebut elektroda referensi. Respon pada elektroda indikator menyebabkan pergeseran pada voltmeter yang tertera terhadap skala pH. (Tim Kimia Dasar, 26: 2010)

2.3 Perubahan pH pada Titrasi Asam-Basa (Kurva Titrasi)
pH akan naik ketika suatu larutan asam ditetesi dengan larutan basa. Sebaliknya jika larutan basa ditetesi dengan larutan asam maka pH larutan akan turun. Grafik yang menyatakan perubahan pH pada titrasi asam dengan basa (atau sebaliknya) disebut kurva titrasi. Bentuk kurva titrasi bergantung pada kekuatan asam dan basa yang direaksikan. Ada tiga jenis titrasi, yaitu :
Titrasi asam kuat dengan basa kuat,
Titrasi asam lemah dengan basa kuat, dan
Titrasi basa lemah dengan asam kuat.
Titrasi asam lemah dengan basa lemah atau sebaliknya, tidak dianjurkan karena reaksinya berlangsung lambat dan tidak tuntas.
Titrasi asam kuat dengan basa kuat
Kurva titrasi asam kuat dengan basa kuat diberikan pada gambar di bawah ini. Gambar tersebut menunjukkan perubahan pH ketika larutan HCl 0,1 M ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M.


Mengalirkan basa pada asam

Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari kurva di atas adalah :
Mula-mula pH larutan naik sedikit demi sedikit, tetapi perubahan yang cukup drastis terjadi sekitar titik ekivalen. Kurva memperlihatkan bahwa sedikit sebelum dan sedikit sesudah titik ekivalen, terjadi perubahan pH dari sekitar 3 menjadi 12.
pH naik seiring dengan penambahan NaOH tetes demi tetes.
Titik ekivalen, pH larutan pada saat asam dan basa tepat habis bereaksi, adalah 7 (netral).
Untuk menunjukkan titik ekivalen dapat digunakan indikator metil merah, bromtimol biru, atau fenolftalein. Indikator-indikator itu mengalami perubahan warna di sekitar titik ekivalen. Oleh karena perubahan warna indikator fenolftalein lebih tajam (lebih mudah diamati), maka indikator fenolftalein lebih sering digunakan.
Titrasi asam lemah dengan basa kuat
Kurva titrasi asam lemah dengan basa kuat, dalam hal ini larutan CH3COOH 0,1 M dengan larutan NaOH 0,1 M, ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Mengalirkan alkali pada asam

Dari kurva tersebut dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
Permulaan kurva menunjukkan kenaikan pH yang relatif cepat tetapi mereda seiring dengan pembentukan larutan penyangga yang mengandung asam etanoat dan natrium etanoat.
Titik ekivalen berada di atas 7, yaitu antara 8 – 10.
Lonjakan perubahan pH pada sekitar titik ekivalen lebih sempit, hanya sekitar 4 satuan, yaitu dari pH ± 7 hingga pH ± 11.
Titrasi basa lemah dengan asam kuat
Perubahan pH pada penetralan basa lemah oleh asam kuat, misalnya larutan NH3 0,1 M yang ditetesi dengan larutan HCl 0,1 M, ditunjukkan pada gambar di bawah ini.


Mengalirkan asam pada basa

Dari kurva tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut.
Pada bagian permulaan kurva, pH menurun dengan cepat seiring dengan penambahan asam, tetapi kemudian kurva segera berubah dengan tingkat kecuraman yang berkurang. Hal ini karena terbentuk larutan penyangga – sebagai akibat dari kelebihan amonia dan pembentukan amonium klorida.
Titik ekivalen, pH larutan pada penetralan basa lemah oleh asam kuat, berada di bawah 7.
Lonjakan pH disekitar titik ekivalen juga lebih sempit, hanya sekitar 4 satuan, yaitu dari pH ± 7 hingga pH ± 3.
Harus diperhatikan bahwa titik ekivalen sekarang sedikit bersifat asam (sedikit lebih kecil daripada pH 5), karena amonium klorida murni tidak netral. Karena itu, titik ekivalen tetap turun sedikit curam pada kurva. Hal itu akan menjadi sangat penting dalam pemilihan indikator yang tepat.

II. ALAT DAN BAHAN
Alat-alat yang digunakan :
Buret 50 ml 1 buah
Pipet tetes 4 buah
Gelas kimia 2 buah
Statif dan klem 1 buah
Erlenmeyer 100 ml 2 buah
Gelas ukur 4 buah
pH meter tangan 1 buah
Botol semprot 1 buah

Bahan – bahan yang diperlukan dalam percobaan ini adalah :

Larutan NaOH 0,1 N
Larutan CH3COOH 0,1 N
Larutan HCl 0,1 N
Larutan Asam Oksalat 0,1 N
Indikator pp (fenolftalein)
Larutan buffer pH 4 dan 7



III. PROSEDUR KERJA

Titrasi asam basa dengan menggunakan indicator

Pembuatan larutan
Membuat larutan baku primer asam oksalat ( H2C2O4. 2H2O ) 0,1 N ( Mr = 126,07 ) dan massa ekivalen = Mr/2 = 63,035 gr dengan menimbang 6,3035 gr dan melarutkan ke dalam aquadest pada labu ukur 1000 ml.
Membuat larutan NaOH 0,1 N sebanyak 100 ml.
Standarisasi larutan NaOH
Standarisasi larutan NaOH yaitu menentukan konsentrasi NaOH yang dibuat, sesuai dengan hasil titrasi dengan larutan baku asam oksalat.
Buret yang bersih dibilas dengan larutan NaOH yang dipakai sebanyak 3 kali, kemudian diisi dengan NaOH sampai batas.
Memasukkan masing-masing 10 ml asam oksalat 0,1 M yang telah ditetesi 4 tetes indikator phenoftalein (pp) kedalam 2 labu titrasi (erlenmeyer 100 ml).
Mencatat keadaan kolom buret yang berisi NaOH sebagai volume awal NaOH. Meneteskan NaOH ke dalam larutan asam oksalat dengan hati-hati setets demi setetes sambil menggoyang-goyangkan labu erlenmeyer sampai terjadi perubahan warna yang paling awal (warna merah sangat muda). Mencatat volume akhir NaOH.
Mencatat jumlah NaOH yang digunakan yaitu selisih antara keadaan akhir dan keadaan awal volume NaOH.
Melakukan kegiatan di atas sebanyak dua kali dan mengambil rata-rata jumlah NaOH yang terpakai, kemudian menghitung konsentrasi larutan NaOH yang sebenarnya dengan rumus :

keterangan :
V = Volume
N = Normalitas
n = jumlah ion H+ (pada asam) atau OH – (pada basa)

Menentukan konsentrasi asam dengan menggunakan larutan NaOH yang telah distandarisasi
Mengambil 10 ml asam lemah CH3COOH 0,1 N ke dalam labu erlenmeyer 100 ml dan menambah 4 tetes indikator pp.
Mencatat volume awal NaOH pada buret yang merupakan sisa kegiatan 2 (dua).
Meneteskan NaOH dari buret ke dalam labu erlenmeyer sampai terjadi perubahan warna paling awal. Ketika meneteskan NaOH ke dalam labu, maka kita harus menggoyang-goyangkan labu tersebut. Mencatat volume akhir NaOH dan menghitung volume NaOH yang terpakai.
Menghitung konsentrasi asam dan membuat kurva titrasi hubungan antara volume NaOH (absis) versus pH larutan (ordinat).
Mengulangi kegiatan 1-3 untuk asam kuat HCl 0,1 M.

Titrasi Asam Basa Dengan Menggunakan pH Meter.
Memasukkan 20 ml HCl kedalam gelas kimia 200 ml.
Mengukur pH dengan pH meter kemudian memasukkan 2 ml NaOH dengan buret.
Mengaduk larutan kemudian mengukur pHnya, menjelang titik ekivalen basa yang ditambahkan hanya beberapa tetes, asisiten akan menjelaskan pengerjaan yang tepat.
Mengulang kegiatan diatas untuk asam lemah CH3COOH 0,1 N.
Membuat kurva titrasi dengan mengalurkan pH terhadap volume NaOH yang ditambahkan.

Volume Penetrasi pH







Cara penulisan volume penitrasi
Skala akhir = a ml
Skala mula-mula = b ml
Volume Penetrasi = (a-b) ml
Membuat kurva titrasi pada kertas grafik dengan mengalurkan pH terhadap volum NaOH yang ditambahkan. ( volume NaOH sebagai absis dan pH sebagai ordinat)

IV. HASIL PENGAMATAN
Titrasi asam basa dengan menggunakan indikator
Standarisasi larutan NaOH
No Perlakuan Hasil pengamatan
1 -Membilas buret dengan NaOH sebanyak 3 kali.
-Mengisi dengan NaOH sebanyak 25 ml
-Warna larutan bening
2 Memasukkan 10 ml H2C2O4. 2H2O kedalam 2 erlenmeyer ditambah dengan 2 tetes indikator pp -Warna larutan bening
3 Meneteskan NaOH dari buret kedalam larutan asam oksalat dan menggoyang perlahan (larutan H2C2O4. 2H2O + 2 tetes indikator pp + tetesan NaOH) -Warna larutan berubah menjadi merah muda
4 Mencatat jumlah NaOH yang digunakan -Erlenmeyer 1 = 8 ml
-Erlenmeyer 2 = 6 ml
Rata-rata volume NaOH yang digunakan 7 ml

Menentukan konsentrasi asam dengan menggunakan larutan NaOH yang telah di standarisasi.
CH3COOH
No Perlakuan Hasil Pengamatan
1 Mengambil 10 ml asam lemah CH3COOH 0,1 N kedalam erlenmeyer 100 ml dan menambahkan 2 tetes indikator pp -Warna larutan bening
2 Mengisi NaOH kedalam buret -Warna larutan bening
3 Larutan CH3COOH + 2 tetes indikator pp + tetesan larutan NaOH -Warna larutan berubah menjadi merah muda

HCl
No Perlakuan Hasil Pengamatan
1 Mengambil 10 ml asam lemah HCl 0,1 N kedalam erlenmeyer 100 ml dan menambahkan 2 tetes indikator pp -Warna larutan bening
2 Mengisi NaOH kedalam buret -Warna larutan bening
3 Larutan HCl + 2 tetes indikator pp + tetesan larutan NaOH -Warna larutan berubah menjadi merah muda

Asam Konsentrasi asam NaOH yang dipakai
CH3COOH 1,34.10-3 N 4 ml
HCl 0,07 N 7ml

Titrasi asam basa dengan menggunakan pH-meter
HCl
Volume HCl 20 ml pH HCl 1.8
Volume NaOH yang ditambah pH percobaan
2 ml 1,9
2,5 ml 1,9
3 ml 2,0
3,5 ml 2,0
4,5 ml 2,1
5,5 ml 2,2
6,5 ml 2,1
7,5 ml 2,1
8,5 ml 2,2
9,5 ml 2,3
10,5 ml 2,4
11,5 ml 2,6
12,5 ml 3
13,5 ml 11,2
14,5 ml 11,9



CH3COOH
Volume CH3COOH 20 ml pH CH3COOH 3,6
Volume NaOH yang ditambah pH percobaan
1ml 4,4
2 ml 4,8
2,5 ml 4,9
3 ml 5,1
3,5 ml 5,2
4 ml 5,4
4,5 ml 5,5
5 ml 5,9
5,25 ml 6,3
5,5 ml 7
5,75 ml 11,1



V. ANALISIS DATA
Titrasi Asam Basa dengan menggunakan Indikator
Standarisasi larutan NaOH
Dalam praktikum laboratorium sering dilakukan standarisasi suatu larutan dari asam dan suatu larutan dari basa yang selanjutnya dapat digunakan untuk menganalisis sampel-sampel asam dan basa yang tidak diketahui. Tujuan dari standarisasi larutan adalah untuk menentukan konsentrasi suatu larutan.
Pada percobaan ini, larutan asam oksalat dicampur dengan larutan NaOH serta indikator PP. Untuk menambahkan larutan NaOH kedalam larutan asam oksalat harus dilakukan setetes demi setetes agar saat tercapainya titik akhir reaksi titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan yaitu warna larutan menjadi merah muda disebabkan oleh indikator PP (phenolftalein) yang diteteskan sebelum reaksi.
Larutan NaOH dan asam oksalat pada saat titrasi berlangsung, titik ekivalennya tercapai tidak pada titik akhir reaksi karena terjadinya reaksi antara asam dan basa yang terhidrolisis sebagian akibat terjadi reaksi antara asam lemah dan basa kuat.
Perbedaan titik ekivalen dengan titik akhir titrasi adalah titik ekivalen yaitu titik dimana konsentrasi asam sama dengan konsentrasi basa, sedangkan titik akhir titrasi yaitu titik dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator.
Setelah melakukan standarisasi larutan NaOH, maka dengan menggunakan rumus berikut:
V1.N1 = V2.N2
Didapat konsentrasi NaOH sesuai hasil filtrasi dengn larutan baku asam oksalat yaitu 0,143 N.
Menentukan konsentrasi asam dengan menggunakan larutan NaOH yang telah distandarisasi.
Titrasi NaOH terhadap CH3COOH
Pada reaksi ini, terjadi reaksi antara basa kuat (NaOH) dengan asam lemah (CH3COOH) . Persamaan reaksi antara asam lemah dengan basa kuat sebagai berikut.
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
Garam yang tersusun pada larutan ini akan terhidrolisis sebagian (hanya anion yang terhidrolisasi). Pada titrasi asam asetat dengan NaOH titik ekivalen tidaklah tepat pada titik akhir titrasi karena terjadi antara asam lemah dengan basa kuat, titik akhir titrasi tercapai ketika pH di atas 7 atau daerah basa.
Hal ini terjadi karena konsentrasi OH- lebih banyak dibandingkan H+ yang dihasilkan oleh asam asetat jumlahnya sedikit karena tergolong asam yang sukar melepaskan ion H+ sedangkan NaOH termasuk basa kuat yang mudah melepaskan ion OH-.
[H+] = Ka. Asam
Basa
Pada percobaan ini termasuk alkalimeter karena basa kuat menitrasi asam lemah. Persamaan reaksi yang terjadi pada percobaan adalah sebagai berikut.
CH3COOH CH3COO- + H+
CH3COONa Na+ + CH3COO-
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
Pada reaksi pertama hampir semua asam asetat tidak terionisasi karena adanya pengaruh asetat yang beras dari ion natrium asetat. Pada reaksi kedua, natrium asetat tersebut mendesak ion asetat yang terjadi dalam reaksi pertama. Akibatnya reaksi pertama di atas bergeser kekiri sehingga harga pH bergantung pada asam dan garamnya. Basa NaOH dalam larutannya akan terionisasi menghasilkan OH- menurut reaksi:
NaOH Na+ + OH-
Dengan menambahkan indikator PP ke dalam larutan CH3COOH dan menambahkan larutan NaOH, maka larutan berubah menjadi warna pink. Hal ini terjadi karena PP secara khusus menentukan keberadaan basa, sehingga saat dicampur dengan ion OH-, struktur kimianya berubah, dan menentukan warna merah muda. Indikator PP dalam sistem hanya sedikit berpengaruh pada volume kesetaraan reaksi.
Penambahan NaOH kedalam larutan CH3COOH menyebabkan bertambahnya NaOH kedalam larutan CH3COOH menyebabkan bertambahnya ion H+ maka asam asetat akan mengion lebih banyak sehingga perubahan pH sangat kecil tetapi setelah ekivalen, perubahan pH mendadak naik tajam, hal ini dikarenakan oleh pH larutan yang ditentukan oleh kelebihan ion OH-.
Jadi reaksi antara CH3COOH dengan NaOH terjadi bukan hidrolisis sempurna, melainkan hidrolisis sebagian yaitu terjadi antara asam lemah dan basa kuat.
Berdasarkan hasil pengamatan, didapat bahwa jumlah rata-rata NaOH yang terpakai adalah 7 ml. Dengan didapatnya volume rata-rata ini, maka kita dapat menghitung konsentrasi asamnya dengan menggunakan rumus :
V1.N1 = V2.N2
Jadi konsentrasi CH3COOH adalah 1,34.10-3 N.
Titrasi NaOH dengan HCl
Pada reaksi ini terjadi terjadi reaksi asam kuat dan basa kuat :
HCl + NaOH NaCl + H2O
Ketika larutan HCl ditambahkan indikator PP dan beberapa ml NaOH, maka terjadi perubahan warna pada larutan yaitu warnanya berubah menjadi merah muda dan tercapai titik ekivalen karena pada penambahan NaOH ini, HCl dan NaOH habis bereaksi dan pH larutan menjadi 7, dan ini sesuai dengan teori bahwa pereaksian larutan asam kuat dengan basa kuat menghasilkan garam yang bersifat netral dan pH-nya 7.
Harga pH bergantung pada asam atau basa yang berlebih jumlahnya. Bila asam yang berlebih maka pH larutan menjadi rendah, sedangkan bila basa yang berlebih pH larutan menjadi tinggi.
Titrasi antara HCl dengan NaOH tidak mengalami hidrolisis karena reaksi yang terjadi adalah antara asam kuat dan basa kuat. Asam kuat dengan basa kuat terurai sempurna dalam larutan berair. Oleh karena itu, pH pada berbagai titik selama titrasi dapat dihitung langsung dari jumlah asam atau basa yang bereaksi. Hal ini menyebabkan titik akhir titrasi akan hampir berimpit dengan titik ekivalen.
Berdasarkan hasil pengamatan, didapat bahwa jumlah NaOH yang terpakai untuk HCl adalah 4 ml. Dengan adanya volume ini, maka kita dapat mengetahui konsentrasi asam dengan rumus berikut.
V1.N1 = V2.N2
Jadi konsentrasi HCl yang didapat adalah 0,07 N.

Titrasi Asam Basa dengan menggunakan PH meter
Pada percobaan ini menggunakan pH meter untuk menentukan pH larutan, pada umumnya menggunakan pH meter lebih sulit dibandingkan titrasi dengan memakai indikator asam basa disebabkan memudahkan pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan dan sangat praktis. Tetapi dengan menggunakan pH meter didapatkan nilai pH dengan ketelitian tinggi.




Perbedaan hasil perhitungan dan percobaan dengan menggunakan pH meter mungkin disebabkan karena pengukuran pH meter yang tidak tepat atau pengaruh penambahan ion H atau OH- pada saat penetralan sebelum pH meter ini digunakan.
Untuk titrasi asam kuat HCl, rentang pH yang diperoleh apabila diteteskan sekitar 20 tetes adalah naik 0,1. Namun setelah titik ekivalen ketika penambahan NaOH sudah mencapai 14,5 L, rentang pH nya mencapai + 11, saat inilah titrasi dihentikan. Pada titik ekivalen, pH larutan mendekati normal, yaitu 7. Jadi titik ekivalen terjadi pada saat asam kuat dan basa kuat tepat habis bereaksi (tercapai kesetimbangan). Reaksinya tidak mengalami hidrolisis, karena asam kuat dan basa kuat terurai sempurna di dalam air.
Untuk titrasi CH3COOH dan NaOH, rentang pH yang diperoleh setiap penambahan 5 tetes NaOH adalah naik 0,1. Namun pada saat menjelang titik ekivalen, rentang pHnya naik lumayan besar. Titik ekivalen diperoleh pada pH > 7, karena merupakan reaksi antara asam lemah dan basa kuat. Reaksi antara CH3COOH dan NaOH ini merupakan reaksi hidrolisis sebagian. Rentang pH pada titik ekivalen adalah 7 < pH < 10,5. VI. KESIMPULAN Sifat asam atau basa bisa ditunjukkan dengan angka yang dikenal sebagai pH atau pOH. Tercapainya titik titrasi ditandai dengan berubahnya warna larutan, perubahan warna tersebut disebabkan oleh indicator metal merah, bromtimol biru, atau phenolftalien (pp). akan tetapi phenolftalien lebih sering di gunakan karena perubahan warna phenolftalien lebih muda diamati. Jika larutan asam ditetesi dengan larutan basa, maka pH larutan akan naik. Sebaliknya, jika larutan basa ditetesi dengan larutan asam, maka pH larutan akan turun. Semakin besar volume larutan, maka semakin besar pula pH dari larutan tersebut. VII.DAFTAR PUSTAKA Ahmad, Hiskia. 2003. Penuntun Dasar – Dasar Praktikum Kimia. Jakarta: Depdikbud. Ahmad, Hiskia. 1993. Penuntun Dasar-Dasar Praktikum Kimia. Jakarta: Depdikbud. Anonim. 2008. Indikator Asam Basa (online). http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/SRIYANI(050679)/materi_5.html. Diakses tanggal 29 Desember 2010. Clark, Jim. 2007. Kurva pH titrasi (online). http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_fisika1/kesetimbangan_asam_basa/kurva_ph_titrasi/. Diakses tanggal 29 Desember 2010. Dosen-dosen kimia perguruan tinggi. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Jakarta: HEDS. Oxtoby, David W. 1999. Prinsip Kimia Modern. Jakarta: Erlangga. R.A. Day, Underwood. 1996. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga. Syahmani. 2010. Panduan Praktikum Kimia Dasar. Banjarmasin: FKIP Unlam. Syukri, S. 1994. Kimia Dasar 2. Bandung: ITB. LAMPIRAN Perbandingan pH hasil percobaan dan pH hasil perhitungan Volume HCl Ph 20 ml 1,8 Volume NaOH yang ditambah pH percobaan pH perhitungan 2 ml 1,9 1,1 2,5 ml 1,9 1,11 3 ml 2,0 1,13 3,5 ml 2,0 1,15 4,5 ml 2,1 1,21 5,5 ml 2,2 1,25 6,5 ml 2,1 1,31 7,5 ml 2,1 1,35 8,5 ml 2,2 1,4 9,5 ml 2,3 1,46 10,5 ml 2,4 1,50 11,5 ml 2,6 1,58 12,5 ml 3 1,63 13,5 ml 11,2 1,72 14,5 ml 11,9 1,85 Volume CH3COOH pH 20 ml 3,6 Volume NaOH yang ditambah pH percobaan pH perhitungan 1ml 4,4 3,72 2 ml 4,8 4,05 2,5 ml 4,9 4,16 3 ml 5,1 4,25 3,5 ml 5,2 4,33 4 ml 5,4 4,4 4,5 ml 5,5 4,47 5 ml 5,9 4,53 5,25 ml 6,3 4,55 5,5 ml 7 4,59 5,75 ml 11,1 4,61 PERHITUNGAN Titrasi HCl oleh NaOH Reaksi : HCl + NaOH → NaCl + H2O Diketahui : V HCl = 20 mL [HCl] = 0,1 M [NaOH] = 0,1 M Ditanya : a. pH mula-mula? b. pH setelah penambahan? Penyelesaian : [H+] = M . α = 0,1 . 1 = 0,1 M pH = - log [H+] = - log 0,1 = 1 1. Penambahan 2 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 2 mL = 0,2 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,2 mmol Reaksi : 0,2 mmol 0,2 mmol 0,2 mmol 0,2 mmol Sisa : 1,8 mmol - 0,2 mmol 0,2 mmol Volume Total = 20 + 2 = 22 mL [H^+ ]= n/V= (1,8 mmol)/(22 mL)=0,08 M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -log⁡〖0,08=1,1〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 2 mL NaOH adalah 1,1 Penambahan 2,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 2,5 mL = 0,25 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,25 mmol Reaksi : 0,25 mmol 0,25 mmol 0,25 mmol 0,25 mmol Sisa : 1,75 mmol - 0,25 mmol 0,25 mmol Volume Total = 20 + 2,5 = 22,5 mL [H^+ ]= n/V= (1,72 mmol)/(22,5 mL)=0,077 M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -log⁡〖0,077=1,11〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 2,5 mL NaOH adalah 1,11 Penambahan 3 ml NaOH Mol HC = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 3 mL = 0,3 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,3 mmol Reaksi : 0,3 mmol 0,3 mmol 0,3 mmol 0,3 mmol Sisa : 1,7 mmol - 0,3 mmol 0,3 mmol Volume Total = 20 + 3 = 23 mL [H^+ ]= n/V= (1 ,7mmol)/(23 mL)=0,074 M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -log⁡〖0,074=1,13〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 3 mL NaOH adalah 1,13 Penambahan 3,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 3,5 mL = 0,35 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,35 mmol Reaksi : 0,35 mmol 0,35 mmol 0,35 mmol 0,35 mmol Sisa : 1,65 mmol - 0,35 mmol 0,35 mmol Volume Total = 20 + 3,5 = 23,5 mL [H^+ ]= n/V= (1,65 mmol)/(23,5 mL)=0,07 M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -log⁡〖0,07=1,15〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 3,5 mL NaOH adalah 1,15 Penambahan 4,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 4,5 mL = 0,45 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,45 mmol Reaksi : 0,45 mmol 0,45 mmol 0,45 mmol 0,45 mmol Sisa : 1,9 mmol - 0,45 mmol 0,45 mmol Volume Total = 20 + 4,5 = 24,5 mL [H^+ ]= n/V= 01,9mmol/(24,5 mL)= 0,063M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -〖log 0,063〗⁡〖=1,21〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 4,5 mL NaOH adalah 1,21 Penambahan 5,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 5,5 mL = 0,55 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,55 mmol Reaksi : 0,55 mmol 0,55 mmol 0,55 mmol 0,55 mmol Sisa : 1,45 mmol - 0,55 mmol 0,55 mmol Volume Total = 20 + 5,5 = 25,5 mL [H^+ ]= n/V= (1,45 mmol)/(25,5 mL)=0,057 M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -log⁡〖0,057=1,25〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 5,5 mL NaOH adalah 1,25 Penambahan 6,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 6,5 mL = 0,65 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,65 mmol Reaksi : 0,65 mmol 0,65 mmol 0,65 mmol 0,65 mmol Sisa : 1,35 mmol - 0,65 mmol 0,65 mmol Volume Total = 20 + 6,5 =26,5 mL [H^+ ]= n/V= 1,35mmol/(26,5 mL)=0,05 M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -log⁡〖0,05=1,31〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 6,5 mL NaOH adalah 1,31 Penambahan 7,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 7,5 mL = 0,75 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,75 mmol Reaksi : 0,75 mmol 0,75 mmol 0,75 mmol 0,75 mmol Sisa : 1,25 mmol - 0,75 mmol 0,75 mmol Volume Total = 20 + 7,5 = 27,5 mL [H^+ ]= n/V= (1,25 mmol)/(27,5 mL)=0,045 M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -log⁡〖0,045=1,35〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 7,5 mL NaOH adalah 1,35 Penambahan 8,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 8,5 mL = 0,85 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,85 mmol Reaksi : 0,85mmol 0,85 mmol 0,85 mmol 0,85 mmol Sisa : 1,15 mmol - 0,85 mmol 0,85 mmol Volume Total = 20 +8,5 = 28,5 mL [H^+ ]= n/V= 1,15mmol/28,5mL=0,04 M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -log⁡〖0,04=1,4〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 8,5 mL NaOH adalah 1,4 Penambahan 9,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 9,5 mL = 0,95 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 0,95 mmol Reaksi : 0,95 mmol 0,95 mmol 0,95 mmol 0,95 mmol Sisa : 1,05 mmol - 0,95 mmol 0,95 mmol Volume Total = 20 + 9,5 = 29,5 mL [H^+ ]= n/V= (1,05 mmol)/(29,5 mL)= 0,035 M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -log⁡〖0,035=1,46〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 9,5 mL NaOH adalah 1,46 Penambahan 10,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 10,5 mL = 1,05 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 10,5 mmol Reaksi : 10,5 mmol 10,5 mmol 10,5 mmol 10,5 mmol Sisa : 0,95 mmol - 10,5 mmol 10,5 mmol Volume Total = 20 + 10,5 = 30,5 mL [H^+ ]= n/V= (0,95 mmol)/(30,5 mL)=0,031 M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -log⁡〖0,031 M=1,50〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 10,5 mL NaOH adalah 1,50 Penambahan 11,5 ml NaOH Mol HC = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 11,5 mL = 1,15 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 1,15 mmol Reaksi : 1,15 mmol 1,15 mmol 1,15 mmol 1,15 mmol Sisa : 0,85 mmol - 1,15 mmol 1,15 mmol Volume Total = 20 + 11,5 = 31,5 mL [H^+ ]= n/V= (0,85 mmol)/(31,5 mL)=0,026 M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -log⁡〖0,026=1,58〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 11,5 mL NaOH adalah 1,58 Penambahan 12,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 12,5 mL = 1,25 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 1,25 mmol Reaksi : 1,25 mmol 1,25 mmol 1,25 mmol 1,25 mmol Sisa : 0,75 mmol - 1,25 mmol 1,25 mmol Volume Total = 20 + 12,5 = 32,5 mL [H^+ ]= n/V= (0,75 mmol)/(32,5 mL)=0,023 M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -log⁡〖 0,023=1,63〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 12,5 mL NaOH adalah 1,63 Penambahan 13,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 13,5 mL = 1,35 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 1,35 mmol Reaksi : 1,35 mmol 1,35 mmol 1,35 mmol 1,35 mmol Sisa : 0,65 mmol - 1,35 mmol 1,35 mmol Volume Total = 20 + 13,5 = 33,5 mL [H^+ ]= n/V= (0,65 mmol)/(33,5 mL)=0,019 M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -log⁡〖 0,019=1,72〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 13,5 mL NaOH adalah 1,72 Penambahan 14,5 ml NaOH Mol HCl = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 14,5 mL = 1,45 mmol HCl + NaOH → NaCl + H2O Awal : 2 mmol 1,45 mmol Reaksi : 1,45 mmol 1,45 mmol 1,45 mmol 1,45 mmol Sisa : 0,5 mmol - 1,45 mmol 1,45 mmol Volume Total = 20 + 14,5 = 34,5 mL [H^+ ]= n/V= (0,5 mmol)/(34,5 mL)=0,014 M pH= -log⁡〖[H^+ ]= -log⁡〖 0,014=1,85〗 〗 Jadi pH setelah penambahan 14,5 mL NaOH adalah 1,85 Titrasi CH3COOH oleh NaOH Reaksi : CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O Diketahui : V CH3COOH = 25 mL [ CH3COOH] = 0,1 M [NaOH] = 0,1 M Ditanya : a. pH mula-mula? b. pH setelah penambahan? Penyelesaian : [H+] = √(ka.Na) = √10-5- 10-2 = √10-6 = 10-3 pH = - log [H+] = - log 10-3 = 3 1. Penambahan 1 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 1 mL = 0,1 mmol CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,1 mmol Reaksi : 0,1 mmol 0,1 mmol 0,1 mmol 0,1 mmol Sisa : 1,9 mmol - 0,1 mmol 0,1 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)⁄(Vtot larutan (L)))/((mol garam)⁄(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 〖10〗^(-5) . (1,9 mmol)/(0,1 mmol)=1,9.〖10〗^(-4) pH = - log [H+] = - log 1,9 . 10-4 = 3,72 Jadi pH setelah penambahan 1 mL NaOH adalah 3,72 Penambahan 2 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 2 mL = 0,2 mmol CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,2 mmol Reaksi : 0,2 mmol 0,2 mmol 0,2 mmol 0,2 mmol Sisa : 1,8 mmol - 0,2 mmol 0,2 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)⁄(Vtot larutan (L)))/((mol garam)⁄(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 〖10〗^(-5) . (1,8 mmol)/(0,2 mmol)=9.〖10〗^(-5) pH = - log [H+] = - log 9 . 10-5 = 4,05 Jadi pH setelah penambahan 2 mL NaOH adalah 4,05 Penambahan 2,5 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 20 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 2,5 mL = 0,25 mmol CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,25 mmol Reaksi : 0,25 mmol 0,25 mmol 0,25 mmol 0,25 mmol Sisa : 1,75 mmol - 0,25 mmol 0,25 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)⁄(Vtot larutan (L)))/((mol garam)⁄(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 〖10〗^(-5) . (1,75 mmol)/(0,25 mmol)=7.〖10〗^(-5) M pH = - log [H+] = - log 7 . 10-5 = 4,16 Jadi pH setelah penambahan 2,5 mL NaOH adalah 4,16 Penambahan 3 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 2 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 3 mL = 0,3 mmol CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,3 mmol Reaksi : 0,3 mmol 0,3 mmol 0,3 mmol 0,3 mmol Sisa : 1,7 mmol - 0,3 mmol 0,3 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)⁄(Vtot larutan (L)))/((mol garam)⁄(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 〖10〗^(-5) . (1,7 mmol)/(0,3 mmol)=5,6.〖10〗^(-5) M pH = - log [H+] = - log 5,6 . 10-5 = 4,25 Jadi pH setelah penambahan 3 mL NaOH adalah 4,25 Penambahan 3,5 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 2 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 3,5 mL = 0,35 mmol CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,35 mmol Reaksi : 0,35 mmol 0,35 mmol 0,35 mmol 0,35 mmol Sisa : 1,65 mmol - 0,35 mmol 0,35 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)⁄(Vtot larutan (L)))/((mol garam)⁄(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 〖10〗^(-5) . (1,65 mmol)/(0,35 mmol)=4,7.〖10〗^(-5 ) M pH = - log [H+] = - log 4,7 . 10-5 = 4,33 Jadi pH setelah penambahan 3,5 mL NaOH adalah 4,33 Penambahan 4 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 2 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 4 mL = 0,4 mmol CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,4 mmol Reaksi : 0,4 mmol 0,4 mmol 0,4 mmol 0,4 mmol Sisa : 1,6 mmol - 0,4 mmol 0,4 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)⁄(Vtot larutan (L)))/((mol garam)⁄(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 〖10〗^(-5) . (1,6 mmol)/(0,4 mmol)=4.〖10〗^(-5) M pH = - log [H+] = - log 4 . 10-5 = 4,4 Jadi pH setelah penambahan 4 mL NaOH adalah 4,4 Penambahan ,54 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 2 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 4,5 mL = 0,45 mmol CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,45mmol Reaksi : 0,45 mmol 0,45 mmol 0,45 mmol 0,45 mmol Sisa : 1,55 mmol - 0,45 mmol 0,45 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)⁄(Vtot larutan (L)))/((mol garam)⁄(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 〖10〗^(-5) . (1,55 mmol)/(0,45 mmol)=3,4.〖10〗^(-5) M pH = - log [H+] = - log 3,4. 10-5 = 4,47 Jadi pH setelah penambahan 4,5 mL NaOH adalah 4,47 Penambahan 5 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 2 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 5 mL = 0,5 mmol CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,5 mmol Reaksi : 0,5 mmol 0,5 mmol 0,5 mmol 0,5 mmol Sisa : 1,5 mmol - 0,5 mmol 0,5 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)⁄(Vtot larutan (L)))/((mol garam)⁄(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 〖10〗^(-5) . (1,5 mmol)/(0,5 mmol)=3 .〖10〗^(-5) M pH = - log [H+] = - log 3 . 10-5 = 4,53 Jadi pH setelah penambahan 5 mL NaOH adalah 4,53 Penambahan 5,25 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 2 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 5,25 mL = 0,525 mmol CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,525 mmol Reaksi : 0,525 mmol 0,525 mmol 0,525 mmol 0,525 mmol Sisa : 1,475 mmol - 0,525 mmol 0,525 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)⁄(Vtot larutan (L)))/((mol garam)⁄(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 〖10〗^(-5) . (1,475 mmol)/(0,525 mmol)=2,8 .〖10〗^(-5) M pH = - log [H+] = - log 2,8 . 10-5 = 4,55 Jadi pH setelah penambahan 5,25 mL NaOH adalah 4.55 Penambahan 5,5 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 2 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 5,5 mL = 0,55 mmol CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,55 mmol Reaksi : 0,55 mmol 0,55 mmol 0,55 mmol 0,55 mmol Sisa : 1,45 mmol - 0,55 mmol 0,55 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)⁄(Vtot larutan (L)))/((mol garam)⁄(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 〖10〗^(-5) . 1,45mmol/(0,55 mmol)=2,6 .〖10〗^(-5) M pH = - log [H+] = - log 2,6 . 10-5 = 4,59 Jadi pH setelah penambahan 5,5 mL NaOH adalah 4,59 Penambahan 5,75 ml NaOH Mol CH3COOH = 0,1 M x 2 mL = 2 mmol Mol NaOH = 0,1 M x 5,75 mL = 0,575 mmol CH3COOH + NaOH → CH3COONa + H2O Awal : 2 mmol 0,575 mmol Reaksi : 0,575 mmol 0,575 mmol 0,575 mmol 0,575 mmol Sisa : 1,425 mmol - 0,575 mmol 0,575 mmol "[" "H" ^"+" "] = " Ka" ." [sisa asam]/[garam] ["H" ^"+" ]= Ka . ((mol sisa asam)⁄(Vtot larutan (L)))/((mol garam)⁄(Vtot larutan (L))) ["H" ^"+" ]= Ka . (mol sisa asam)/(mol garam) ["H" ^"+" ]= 〖10〗^(-5) . (1,425 mmol)/(0,575 mmol)=2,48 .〖10〗^(-5) M pH = - log [H+] = - log 2,48 . 10-5 = 4,61 Jadi pH setelah penambahan 5,75 mL NaOH adalah 4,61 Gambar – gambar percobaan titrasi asam basa Gambar yang kanan berhasil, yang kiri gagal Gambar setelah titrasi dilakukan (larutan berwarna pink sangat muda) FLOW CHART PERCOBAAN VI TITRASI ASAM BASA Titrasi Asam Basa dengan menggunakan Indikator Pembuatan Larutan Menimbang Melarutkan ke dalam labu ukur 1000 ml Membuat larutan Standarisasi larutan NaOH Menggunakan NaOH sebagai pembilas buret yang akan dipakai sebanyak 3 kali Mengisi buret sampai batas Labu 1 Memasukkan ke dalam labu 1 Menggoyang-goyangkan sampai terjadi perubahan warna Mencatat jumlah NaOH yang digunakan Labu 2 Memasukkan ke dalam labu 2 Menggoyang-goyangkan sampai terjadi perubahan warna Mencatat jumlah NaOH yang digunakan Melakukan kegiatan di atas sebanyak 2 kali Mengambil rata-rata jumlah NaOH yang terpakai Menghitung konsentrasi larutan NaOH dengan rumus : V1 x N1 = V2 x N2 Menentukan konsentrasi asam dengan menggunakan larutan NaOH yang telah di standarisasi Memasukkan ke dalam Erlenmeyer100 ml Memasukkan kedalam buret Mencatat keadaan awalnya Menentukan NaOH ke dalam larutan asam lemah Mengamati perubahan yang terjadi Menghitung konsentrasi asam dan membuat kurva titrasi hubungan antara volume NaOH (absis) versus pH larutan (ordinat) Mengulangi kegiatan 1-3 untuk asam kuat HCl Titrasi Asam Basa dengan menggunakan pH-meter Memasukkan ke dalam gelas kimia 100 ml Memasukkan ke dalam buret Mengukur pH dengan pH meter Mengukur pH dengan pH meter Meneteskan NaOH ke dalam larutan HCl Mengaduk-ngaduk Mengukur pH campuran Menambahkan hanya beberapa tetes menjelang titik ekivalen basa Mengukur pH-nya menjelang titik ekivalen Basa yang ditambahkan hanya beberapa tetes. Membuat kurva titrasi pada kertas grafik dengan mengalurkan pH terhadap volume NaOH yang ditambahkan (volume NaOH sebagai absis dan pH sebagai ordinat). PERCOBAAN VII Judul : Kesetimbangan Tujuan : 1.Mempelajari kesetimbangan Pe(SCN)3 2.Mempelajari dan mengamati pengaruh zat lain terhadap kesetimbangan Fe(SCN)3 Hari/tanggal : Senin/20 desember 2010 Tempat : Laboratorium kimia FKIP UNLAM Banjarmasin DASAR TEORI Secara termodinamika reaksi kimia dapat dibagi atas 3 macam,yaitu:reaksi spontan,reaksi tak spontan dan reaksi kesetimbangan.Ketiga macam reaksi tersebut dikaitkan dengan perubahan energi bebas yang menyertainya.Reaksi 06 egatif untuk reaksi spontan,06 positif untuk reaksi tak spontan dan 06=0bmaka reaksi dalam kesetimbangan. Dilihat dari cara berlangsungnya,reaksi kimia dibagi dua,yaitu: Reaksi berkesudahan (reversible),yaitu reaksi yang berlangsung satu arah (->) artinya zat-zat hasil reaksi tidak dapat dikembalikan membentuk reaktan.
Contoh:
Fe (s) + 2 HCl (aq) FeCl2 (aq) + H2 (q)
FeCl2 yang berbentuk jika direaksikan dengan gas H2 atau sebaliknya,tidak akan membentuk kembali menjadi logam besi (Fe) dan HCl.
2. Reaksi dapat balik (reversible), reaksi dapat berlangsung dua arah ( ).
Pada umumnya reaksi kimia adalah reaksi kesetimbangan. Kesetimbangan adalah keadaan yang terjadi jika laju reaksi ke kanan (maju) sama dengan laju reaksi ke kiri (balik). Reaksi kesetimbangan dapat dikenla dari sifat makroskopik yang konstan dalam system tertutup (ayau dapat dianggap sebagi system tertutup) pada temperature tertentu. Adalah bahan – bahan lain dalam larutan dapat mengganggu kesetimbangan larutan itu sendiri, misalnya ion – ion lain dan sebagainya.
Kesetimbangan terbagi dua, yaitu kesetimbangan homogeny (hanya satu fasa). Contoh :
- Kesetimbangan Sistem gas – gas
2 SO2 (g) + O2 (g) 2 SO3 (g)
- Kesetimbangan system larutan – larutan
NH4 OH(aq) NH4+ (aq) + OH- (aq)
Yang kedua adalah kesetimbangan heterogen(lebih dari satu fasa).
Contoh :
-Kesetimbangan sistem pada gas-gas
CaCO- (s) + Ca2O(s) + CO2(g)
-Kesetimbangan sistem pada larutan
BaSO(s) Ba2+ + SO42-
- kesetimbangan system larutan padat gas
Ca (HCO3) 2 (aq) CaCO3 (s) + H2O(i) + CO2(g)

Hukum kesetimbangan (Hukum Guldberg dan Wange)
“Dalam keadaan kesetimbangan pada suhu tetap,maka hasil kali konsentrasi zat-zat hasil reaksi dibagi dengan hasil kali konsentrasi pereaksi yang sisa dimana masing-masing konsentrasi itu dipangkatkan dengan koefisien reaksinya adalah tetap.”
Dalam kesetimbangan,terdapat istilah kesetimbangan dinamis.Reaksi seakan-seakan terhenti,tetapi sebenarnya reaksi terus berjalan,hanya jumlah mol zat perliter yang diubah dengan mol zat perliter yang terbentuk.Kesetimbangan dinamis mempunyai ciri:
1.Pada saat kesetimbangan reaksi tidak terhenti.
2.Reaksi terus berlangsung dalam dua arah ( ) dengan laju yang sama.
3.Laju reaksi maju(V1) sama dengan laju reaksi balik (V2) atau dapat di tulis V1=V2
4.Pada saat setimbang jumlah masing-masing zat tidak berubah.
Pada saat kesetimbangan,pertandingan konsentrasi hasil 1 reaksi dan pereaksi selalu tetap,pada temperatur yang tetap,berapapun konsentrasi hasil reaksi dan pereaksi selalu tetap,pada temperatur yang tetap,berapapun konsentrasi pereaksi yang dipakai.
Tetapan Kesetimbangan
Perbandingan antara konsentrasi hasil-hasil reaksi dengan pereaksi disebut tetapan kesetimbangan.Tetapan kesetimbangan dapat dinyatakan dalam tetapan konsentrasi (Kc) dan tetapan kesetimbangan tekanan (Kp) adalah perbandingan komposisi hasil reaksi dengan pereaksi pada keadaan setimbang dalam suhu tertentu

aW +bX cY + Dz

Kc = [Y]2 [Z]4 Kp = (Py)c (P2)d
[W]a [X]b (Pw)a (Px)b
1.Tetapan Kesetimbangan Konsentrasi (Kc)
Teatapan kesetimbangan konsentrasi beradasar konsentrasi zat,berlaku untuk zat-zat yang berfasa gas dan aqurus (larutan).Dalam menentukan tetapan kesetimbangan yang perlu diperhatikan adalah zat yang berfase solid (padat) dan liquid (cair) tidak disertakan dalam persamaan tetapan kesetimbangan.

2.Tetapan Kesetimbangan Tekanan (Kp)
Tetapan kesetimbangan berdasar tekanan parsial,hanya berlaku untuk gas.
3.Hubungan Kc dengan Kp
Hubungan Kc dengan Kp dapat dirumuskan:

∆n = jumlah koefisien kanan – jumlah koefisien kiri

Pergeseran Kesetimbangan
Menurut Le Chatelier :
“Apabila dalam suatu sistem kesetimbangan diberi suatu aksi,masa sistem tersebut akan mengadakan reaksi sedemikian rupa sehingga aksi dari luar tersebut berpengaruh sekecil-kecilnya terhadap sistem.”

Pada reaksi : A+B -> C+D
Kemungkinan terjadinya pergeseran :
-Dari kiri kekanan
A bereaksi dengan B membentuk C dan D,sehingga jumlah mol A dan B membentuk C dan D,sehingga jumlah mol A dan B berkurang,sedangkan C dan D bertambah.
-Dari kanan kekiri
C dan D bereaksi membentuk A dan B,sehingga jumlah mol C dan d berkurang sedangkan A dan B bertambah.
Pergeseran kesetimbangan terjadi karena hal-hal sebagai berikut:
1.Perubahan konsentrasi
Apabila salah satu konsentrasi zat diperbesar,maka kesetimbangan mengalami pergeseran yang berlawanan arah dengan zat tersebut.Bila konsentrasi diperkecil,kesetimbangan akan bergeser ke arah zat tersebut.
2.Perubahan Tekanan
Apabila tekanan dalam sistem kesetimbangan diperbesar,maka kesetimbangan bergeser kearah zat-zat yang mempunyai koefisien kecil.Apabila tekanan dalam sistem kesetimbangan diperkecil,maka kesetimbangan bergeser ke arah zat-zat yang mempunyai koefisien besar.jika jumlah koefisien reaksi kedua ruas sama besar,perubahan tekanan atau volume tidak mengeser kesetimbangan.
3.Perubahan Volume
Apabila volume dalam sistem kesetimbangan tersebut diperbesar,maka kesetimbangan bergeserke arah zat-zat yang mempunyai koefiseien besar.Apabila volume dalam sistem kesetimbangan tersebut diperkecil,maka kesetimbangan bergeser ke arah zat-zat yang mempunyai koefisien kecil.Untuk perubahan tekanan dan volume,jika koefisien zat-zat di kiri(pereaksi) dan kanan (hasil reaksi)sama,maka tidak terjadi pergeseran kestimbangan.

ALAT DAN BAHAN
Alat yang diperlukan:
gelas kimia 2 buah
pipet tetes 3 buah
tabung reaksi 6 buah
gelas ukur 10 ml 1 buah
labu ukur 25 ml 1 buah
rak tabung 1 buah
kuvet 1 buah
spectronic-20 1 buah

Bahan yang digunakan:
Larutan KSCN 0,002M
Larutan KSCN pekat (40%) 1M
Fe(NO3)2 0,2M
Butiran Na2HPO4

PROSEDUR KERJA
Memasukkan 30 ml KSCN 0,002M kedalam gelas kimia, menambahkan 10 tetes larutan Fe(NO3)2 0,2M. Mengocok dengan baik dan mengamati warna larutan yang terjadi. Membagi larutan ini menjadi empat bagian yang sama dan memasukkan kedalam tabung reaksi:
Tabung reaksi I sebagai pembanding
Tabung reaksi II tambahkan 1 tetes KSCN pekat
Tabung reaksi III tambahkan 3 tetes Fe(NO3)2 0,2M
Tabung reaksi IV tambahkan sebutir Na2HPO4
Menyediakan 6 tabung reaksi yang bersih dan kering, beri label I sampai VI kedalam 6 tabung reaksi ini. Memasukkan masing-masing 5 ml KSCN 0,002M. Menambahkan kedalam tabung I dan II, masing-masing 5 ml Fe(NO3)2 0,2M. Tabung reaksi ini digunakan sebagai standar.
Mengukur 10ml Fe(NO3)2 0,2M dan menambahkan air hingga volumenya menjadi 25 ml kocok hingga rata. Menghitung konsentrasi larutan hasil pengenceran ini. Mengambil 5 ml larutan ini dan memasukkan ledalam tabung reaksi III. Mengocok hingga rata.
Mengukur 10 ml larutan Fe(NO3)2 0,2M dari prosedur 3 dan 4. Mengencerkan hingga 25 ml mengocok dengan baik dan mengambil 5 ml. Kemudian memasukkan kedalam tabung reaksi IV.
Melakukan sama dengan cara dari prosedur 4 hingga tabung reaksi VI.
Menyamakan intensitas warna dari tabung III sampai dengan VI terhadap tabung II dengan cara memasukkan tetes demi tetes larutan dari tabung I kemudian mengukur tinggi larutan dari tabung II hingga tabung VI dan mencatatnya.

HASIL PENGAMATAN

1. Pengaruh zat lain terhadap kesetimbangan Fe(NO3)2
NO Variabel yang diamati Hasil pengamatan
1 Memasukkan 30 ml KSCN 0,002M + 10 tetes larutan Fe(NO3)2

Mengocok dan mengamati warna larutan
Membagi larutan menjadi 4 bagian :

Tabung I sebagai pembanding

Tabung II ditambahkan 1 tetes KSCN pekat


Tabung III ditambahkan 3 tetes Fe(NO3)2 0,2M

Tabung IV menambahkan sebutir Na2HPO4


Membandingkan warna setiap tabung reaksi dengan tabung I










Mengukur entensitas masing-masing tabung dengan spectronic-20 pada λ= 540 mm Warna awalnya bening, setelah di tetesi larutan Fe(NO3)2 0,2M sebanyak 10 tetes warnanya menjadi jingga





Warnanya tetap

Terbentuk 2 lapisan. Lapisan atas berwarna jingga, dan lapisan bawah berwarna merah hati

Berwarna jingga tua


Terbentuk 2 lapisan, lapisan atas berwarna bening dan lapisan bawah membentuk endapan

Tabung I dengan tabuna II: tabung II warnanya lebih pekat dari tabung I
Tabung I dengan tabung III: tabung III warnanya lebih tua dari tabung I
Tabung I dengan tabung IV: tabung IV membentuk 2 lapisan, lapisan atas berwarna bening dan lapisan bawah membentuk endapan, sedangkan tabung I berwarna jingga

Tabung I = 19,5% T
Tabung II = 1,3% T
Tabung III = 7,0% T
Tabung IV = 60,6% T


2. Bentuk kesetimbangan Fe(NO3)2
NO Variabel yang diamati Hasil pengamatan
Member label I sampai VI, lalu memasukkan masing-masing 5ml KSCN 0,002M
Dalam tabung I dan II, masing-masing 5 ml Fe(NO3)2 0,2M Warnanya berubah menjadi jingga kecoklatan, karena Fe(NO3)2 berwarna jingga kecoklatan
Mengukur 10ml Fe(NO3)2 0,2M, menambahkan air hingga volumenya menjadi 25 ml dan mengocok hingga rata Karena ditambahkan air , warnanya menjadi lebih muda yaitu jingga muda
Mengambil 5 ml larutan tersebut dan memasukkan kedalam tabung reaksi III dan mengocok hingga rata Warnanya menjadi agak muda dibanding tabung I dan II
Mengukur 10 ml Fe(NO3)2 0,2M, dan mengencerkan hingga 25ml, lalu mengocok dengan baik Warnanya kuning muda
Mengambil 5ml dan kemudian memasukkan kedalam tabung IV Warnanya lebih muda lagi dari tabung I, II, dan III
Mengukur 10ml larutan Fe(NO3)2 0,2M dan mengencerkan hingga 25 ml. mengocok dengan baik Warnanya kuning sangat muda
Mengambil 5 ml dan kemudian memasukkan kedalam tabung V Warnanya lebih muda lagi dari tabung I, II, III, dan IV
Mengukur 10ml larutan Fe(NO3)2 0,2M dan mengencerkan hingga 25 ml dan mengocok dengan baik Warnanya putih agak kekuning-kuningan
Mengambil 5 ml kemudian memasukkan kedalam tabung VI Warnanya sangat muda di banding tabung I, II, III, IV, dan V
Membandingkan keenam tabung larutan yang terjadi Dari tabung I sampai VI, warnanya semakin muda
Mengukur tinggi larutan hingga tabung VI Tabung I = 7,9 cm
Tabung II =8,0 cm
Tabung III = 8,1 cm
Tabung IV = 7,9 cm
Tabung V = 7,9 cm
Tabung VI = 7,8 cm
Menyamakan entensitas warna dari tabung II sampai tabung VI terhadap tabung II dengan cara memasukkan tetes demi tetes larutan dari tabung I dan mengukur tinggi masing-masing larutan dari tabung II sampai VI Tabung II =8,0 cm
Tabung III = 8,7 cm
Tabung IV = 9,5 cm
Tabung V = 9,8 cm
Tabung VI = 10,0 cm

ANALISIS DATA
Berdasarkan pengamatan, dapat dijelaskan pengaruh konsentrasi terhadap suatu kesetimbangan. Tabung I digunakan sebagai pembanding campuran larutan KSCN 0,002M dan Fe(NO3)2 0,2M dengan warna larutan jingga. Persamaan reaksinya sebagai berikut :

Fe(NO3)2 + 3KSCN Fe(SCN)3 + 3KNO3

Perubahan warna yang awalnya larutan KSCN 0,002M berwarna bening setelah di tetesi Fe(NO3)2 sebanyak 10 tetes sehingga menghasilkan larutan yang berwarna jingga. Berdasarkan perubahan warna tersebut dapat diketahui bahwa kecepatan reaksi pada saat awal adalah besar (maksimum). Selanjutnya kecepatan reaksi turun sejalan dengan semakin berkurangnya Fe3+ pada Fe(NO3)2. Hal ini terjadi pergeseran kesetimbangan ( kearah produk/kekanan ) yang berakibat bertambahnya [Fe(SCN)3 ]. Rreaksi yang menuju kekanan juga menurun. Sebaliknya, konsentrasi [Fe(SCN)3] mulai dengan nol kemudian naik setelah [Fe(SCN)3] terbentuk. Dapat dijelaskan suatu kecepatan reaksi kekanan dan kiri sama besar. Inilah yang termasuk sistem kesetimbangan.
Selanjutnya membagi larutan menjadi 4 bagian yang sama, yang mana pada tabung I di gunakan sebagai pembanding dari tabung II sampai tabung IV. Pada tabung II ditambahkan 1 tetes KSCN pekat dengan transmitannya sebesar 1,3%. Sesuai dengan azas le chatelier maka kesetimbangan bergeser kekanan sehingga intensitas warna pada tabung II lebih pekat dari pada tabung I. pada tabung III larutan ditambahkan3 tetes Fe(NO3)2 0,2M menghasilkan warna jingga tua dengan transmitan 7,0%. Pada tabung I dengan transmitannya sebesar 19,5% dan pada tabung IV larutan ditambahkan sebutir Na2HPO4 terbentuk 2 lapisan, lapisan atas berwarna bening dan lapisan bawah membentuk endapan dengan transmitan 60,6%. Sehingga pada pencapaian kesetimbangan, produk (FeSCN2+) juga melakukan reaksi balik, sehingga sebagian produk melawan pengaruh kenaikan jumlah salah satu reaktan dengan menggeser kesetimbangan kekiri dan menyebabkan pengurangan konsentrasi produksi.

Tabung Reaksi Nilai Transmitan(%)
II 1,3%
III 7,0%
I 19,5%
IV 60,6%

Berhubungan dengan intensitas warna, jelas terlihat pergeseran kearah pereaktan, mengakibatkan intensitas warna memudar dan menjadi bening dan nilai transmitannya bertambah. Semakin besar nilai transmitannya maka kepekatan larutan juga akan semakin berkurang.
Pada percobaan kedua yaitu kesetimbangan Fe(NO3)2 yang dilakukan dengan cara memperbesar volume larutan dengan menambahkan larutan Fe(NO3)2 dengan aquades, didapat bahwa kesetimbangan konsentrasi larutan akan berkurang apabila volume larutan diperbesar. Pada tabung I berisi 5 ml KSCN ditambahkan Fe(NO3)2 sebelum di encerkan menghasilkan warna jingga kecoklatan. Pada pengenceran ditambahkan air kedalam 10ml Fe(NO3)2 sehingga volume menjadi 25 ml yang warnanya lebih muda yaitu jingga muda. Hasil pengenceran kemudian diambil 5 ml dan memasukkan kedalam tabung III yang berisi 5 ml KSCN, sehingga volume larutan menjadi 10 ml. Proses pengenceran ini dilakukan sampai tabung VI. Semakin banyak pengenceran yang dilakukan pada larutan yang diambil, maka warna larutan semakin memudar ( warna larutan pada tabung VI memiliki warna lebih pudar dibandingkan warna larutan pada tabung sebelumnya). Pengenceran ini sama halnya dengan memperbesar volume dan memperkecil konsentrasi ( jarak antar partikel dalam larutan makin renggang).
Agar mendapat intensitas warna larutan yang sama dengan larutan tabung I dan II, maka perbandingan tinggi larutan masing-masing tabung mengalami penurunan dari tabung II sampai VI, dengan perbandingan tinggi larutan yang semakin besar pada tiap tabungnya.Sehingga keduanya memiliki hubungan berbanding terbalik.
Selanjutnya menyamakan intensitas warna dari tabung II sampai VI dengan cara meneteskan tetes demi tetes larutan pada tabung I. Penyamaan warna larutan ini diperlukan tetes demi tetes larutan KSCN karena hanya memerlukan ion Fe3+ sedikit untuk menyamakan pada larutan standar. Sehingga pada tabung II sebagai standar merupakan suatu reaktan. Sedangkan pada tabung III sampai VI merupakan produk. Agar produk memiliki intensitas warna yang sama dengan reaktan, dilakukan penambahan konsentrasi pada produk sehingga kesetimbangan bergeser kekiri sehingga reaktan memperoleh keadaan setimbang.

Tabung Tinggi larutan awal Tinggi larutan setimbang
II 8,0 cm 8,0 cm
III 8,1 cm 8,7 cm
IV 7,9 cm 9,5 cm
V 7,9 cm 9,8 cm
VI 7,8 cm 10,0 cm

Dapat dilihat dari perbandingan tinggi larutan adanya perbedaan konsentrasi larutan dari tiap-tiap tabung karena adanya pengenceran larutan Fe(NO3)2, sehingga untuk setiap tabung memerlukan ion Fe3+ yang berbeda-beda untuk menyamakan intensitas warna terhadap tabung II sehingga mengakibatkan perbedaan tinggi larutan antara tabung III sampai tabung VI.



KESIMPULAN

Berdasarkan perubahan warna tersebut dapat diketahui bahwa kecepatan reaksi pada saat awal adalah besar ( maksimum). Persamaan reaksinya sebagai berikut:
Fe(NO3)2 + 3KSCN Fe(SCN)3 + 3KNO3
Pada pencapaian kesetimbangan, produk (FeSCN2+) melakukan reaksi balik, sehingga sebagai produk melawan pengaruh kenaikan jumlah salah satu reaktan dengan menggeser kesetimbangan kearah kiri.
Semakin banyak nilai transmitannya maka kepekatan larutan juga akan berkurang dan warna larutan semakin bening, sebaliknya jika nilai transmitannya rendah akan menambah kepekatan larutan.
Pengenceran sama halnya dengan memperbesar volume dan memperkecil konsentrasi (jarak antar partikel dalam larutan makin renggang).
Perbandingan tinggi larutan menunjukkan bahwa konsentasi larutan yang berbeda-beda dan membutuhan ion Fe3+ yang berbeda juga untuk mendapatkan kesetimbangan.






DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Hiskia. 1993. Penuntun Dasar-dasar Praktikum Kimia. Jakarta: Depdikbud
Purba, Michael. 2006. Kimia 2 untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga
Syahmani. 2010. Panduan Praktikum Kimia Dasar. Banjarmasin:
FKIP-UNLAM

Tim Kimia Dasar. 2007. Petunjuk Praktikum Kimia Dasar 1 & 2. Banjarmasin: FKIP-UNLAM






















LAMPIRAN
Perhitungan
Konsentrasi larutan standar

Fe(NO3)2 Fe3+ + 3NO3-
0,2M 0,2M 0,6M

Mol Fe3+ = M . V
= 0,2M . 5ml
=1mmol
KSCN K+ + SCN-
0,002M 0,002M 0,002M

Mol SCN- = M.V
= 0,002M . 5 ml
=0,01 mmol

Fe3+ + SCN- Fe(NO3)2

M = 1 mmol 0,01 mmol _
R = 0,01 mmol 0,01 mmol 0,01M
S = 0,99mmol _ 0,01M

Pereaksi pembatas adalah SCN-
Volume campuran = V Fe3+ + V SCN-
= 5 ml + 5 ml = 10 ml
Jadi, konsentrasi larutan standar = mol SCN-
V total
= 0,01 mmol
10 ml
= 0,001M

Perbandingan tinggi larutan

Tabung II = tinggi larutan standar = 8 = 1
Tinggi larutan tabung II 8

Tabung III = tinggi larutan standar = 8 = 0,92
Tinggi larutan tabung III 8,7
Tabung IV = tinggi larutan standar = 8 = 0,84
Tinggi larutan tabung IV 9,5

Tabung V = tinggi larutan standar = 8 = 0,82
Tinggi larutan tabung V 9,8

Tabung VI = tinggi larutan standar = 8 = 0,8
Tinggi larutan tabung VI 10,0

Larutan tabung II sebagai standar

Konsentrasi Fe(SCN)2+ pada saat setimbang

Tabung III = perbandingan tinggi larutan x konsentrasi larutan standar
= 0,92 x 0,001M
= 0,00092M
= 9,2 x 10-4M
Tabung IV = perbandingan tinggi larutan x konsentrasi larutan standar
= 0,84 x 0,001M
= 0,00084M
= 8,4 x 10-4M
Tabung V = perbandingan tinggi larutan x konsentrasi larutan standar
= 0,84 x 0,001M
= 0,00082M
= 8,2 x 10-4M
Tabung VI = perbandingan tinggi larutan x konsentrasi larutan standar
= 0,8 x 0,001M
= 0,0008M
= 8 x 10-4M

Konsentrasi Fe3+ awal ( pada saat pengenceran) pada saat konsentrasi larutan Fe(NO3)2 pada saat pengenceran

Tabung II = m1 . v1 = m2 . v2
= 0,2 . 10 = m2 . 10
m2 = 0,2M

Tabung III = m1 . v1 = m2 . v2
= 0,2 . 10 = m2 . 25
m2 = 0,08M
Tabung IV = m1 . v1 = m2 . v2
= 0,08 . 10 = m2 . 25
m2 = 0,032M

Tabung V = m1 . v1 = m2 . v2
= 0,032 . 10 = m2 . 25
m2 = 0,0128M

Tabung VI = m1 . v1 = m2 . v2
= 0,0128 . 10 = m2 . 25
m2 = 0,00512M

Perhitungan ini untuk mendapatkan konsentrasi [Fe3+] awal dan memperoleh konsentrasi pengenceran Fe(NO3)2.

Perhitungan konsentrasi [Fe3+] pada keadaan setimbang dengan cara :

[Fe3+] setimbang= [Fe3+] awal – [FeSCN2+]

Tabung III =
[Fe3+] setimbang= 0,08 – 0,00092 =0,07908M

Tabung IV =
[Fe3+] setimbang= 0,032 – 0,00084 =0,03116M

Tabung V =
[Fe3+] setimbang= 0,0128 – 0,00082 =0,01198M

Tabung VI =
[Fe3+] setimbang= 0,00512 – 0,0008 =0,00432M

Perhitungan konsentrasi [SCN-] pada saat setimbang dengan cara:

[SCN-] setimbang = [SCN-] awal - [FeSCN2+] setimbang

Tabung III = 0,002 – 0,00092 = 0,00108M
Tabung IV = 0,002 – 0,00084 = 0,00116M
Tabung III = 0,002 – 0,00082 = 0,00118M
Tabung III = 0,002 – 0,00080 = 0,0012M
Menghitung tetapan kesetimbangan

Tabung II
[Fe3+] [FeSCN2+] [SCN-] = 0,2 . 0,001 .0,001
= 2. 10-7M
[Fe3+] [FeSCN2+] = 0,2 . 0,001
[SCN-] 0,001
= 0,2M
[FeSCN2+] = 0,001 = 5M
[Fe3+] [SCN-] 0,2 . 0,001

Tabung III
[Fe3+] [FeSCN2+] [SCN-] = 0,07098 . 0,00092 .0,00108
= 7,8 . 10-8M
[Fe3+] [FeSCN2+] = 0,07098 . 0,00092
[SCN-] 0,00108
= 6,7 . 10-2M
[FeSCN2+] = 0,00092 = 10,77M
[Fe3+] [SCN-] 0,07098 . 0,00108

Tabung IV
[Fe3+] [FeSCN2+] [SCN-] = 0,03116 . 0,00084 .0,00116
= 3,1 . 10-8M
[Fe3+] [FeSCN2+] = 0,03116. 0,00084
[SCN-] 0,00116
= 2,6 . 10-5M
[FeSCN2+] = 0,00084 = 23,24M
[Fe3+] [SCN-] 0,03116. 0,00116

Tabung V
[Fe3+] [FeSCN2+] [SCN-] = 0,01198 . 0,00082 .0,00118
= 1,1 . 10-8M
[Fe3+] [FeSCN2+] = 0,01198. 0,00082
[SCN-] 0,00118
= 8,3 . 10-3M
[FeSCN2+] = 0,00082 = 58M
[Fe3+] [SCN-] 0,01198. 0,00118




Tabung VI
[Fe3+] [FeSCN2+] [SCN-] = 0,00432 . 0,0008 .0,0012
= 4 . 10-9M
[Fe3+] [FeSCN2+] = 0,00432. 0,0008
[SCN-] 0,0012
= 2,9 . 10-3M
[FeSCN2+] = 0,0008 = 154,3M
[Fe3+] [SCN-] 0,00432. 0,0012
Catatan
Pada tabung II
[Fe3+] saat setimbang = 0,2M
[FeSCN2+] saat setimbang = perbandingan tinggi x konsentrasi larutan standar
= 1 x 0,001 = 0,001M
[SCN-] saat setimbang = [SCN-] awal - [FeSCN2+] setimbang
= 0,002 – 0,001 = 0,001M













Gambar – gambar percobaan kesetimbangan







FLOW CHART
PERCOBAAN VII
KESETIMBANGAN


Mengocok
Mengamati warna larutan

Membagi 4 larutan dengan bagian yang sama

Memasukkan ke dalam 4 buah tabung reaksi

tabung I tabung II tabung III tabung IV


- Membandingkan warna setiap tabung reaksi dengan tabung I
- Mengukur intensitas warna masing-masing tabung dengan spectronic – 20 pada λ= 540 nm
- Memperkirakan pergeseran kesetimbangan untuk setiap tabung reaksi





Memasukkan ke dalam 6 tabung reaksi
Member label 1 - 6





Memasukkan ke dalam tabung reaksi
mengocok

Mengambil 5 ml campuran ke tabung reaksi III
mengocok



Memasukkan ke dalam tabung reaksi
Mengocok



Mengambil 5 ml campuran ke tabung reaksi IV

mengocok

Melakukan prosedur ini hingga tabung VI
Membandingkan keenam larutan yang terjadi
Menyamakan intensitas warna dari tabung III s/d VI terhdap tabung II dengan memasukkan tetes demi tetes larutan dari tabung I
Mengukur tinggi larutan dari tabung II hingga tabung VI
Mencatat hasilnya.













Percobaan VIII

Judul : Kimia Koloid
Tujuan : Menjelaskan sifat-sifat koloid
Hari/Tanggal : Senin/ 20 Desember 2010
Tempat : Laboratorium Kimia FKIP Unlam Banjarmasin

DASAR TEORI
Larutan koloid seperti pada larutan the, kopi, dan air pada perairan rawa/gambut, bila dibiarkandalam waktu yang lama, tidak akan tejadi proses pemisahan ataupun pengendapan. Bahkan dengan penyaringan/filtrasi, terkecuali dengan proses membran.
Diameter dari partikel dalam larutan homogen/sejati selalu lebih kecil dari 1 mµ. bila ddiameter partikel-partikel dalam larutan berkisar antara 1-100 mµ. system larutan disebut koloid. Dan bila partikel-partikelnya 100 mµ, system larutan disebut campuran kasar atau dispersi.
Ditinjau dari jenis partikelnya, ada 3 jenis koloid:
Dispersi koloid.
Terdiri atas zat-zat yang tidak larut dalam partikel-partikel yang terdiri dari gabungan banyak molekul.
Misal: koloid Au, As2S3 dan minyak dalam air.
Larutan Makromolekul.
Berupa larutan dari zat-zat dengan bentuk molekul yang besar hingga mempunyai ukuran koloid.
Misal: Protein, polivinil alcohol, larutan karet, atau polimer-polimer dalam pelarut organik.
Asosiasi Koloid.
Terdiri atas larutan zat-zat yang larut dengan berat molekul rendah tetapi membentuk agregat-agregat.
Missal: sabun.
Dispersi koloid bersifat heterogen, terdiri atas fase terdispersi dan fase pendispersinya. Baik terdispersi maupu pendispersinya dapat berupa zat padat, cair, dan gas hingga terbentuk 9 bentuk system dispersi. Dari jumlah ini direduksi menjadi 8 bentuk, karena gas selalu bercampur sempurna. Dari kedelapan jenis ini yang penting adalah bentuk sol, emilsi, dan gel.
Aerosol merupakan sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas. Jika zat terdispersi berupa zat padat disebut aerosol padat. Contohnya asap dan debu. Jika zar yang terdispersi berupa zat cair, disebut aerosol cair. Contohnya kabut dan awan.
Sol merupakan sistem koloid dari partikelpadat yang terdispersi dalam zat cair. Koloid jenis sol banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam industry. Contohnya: air sungai (sol mlempung dalam air), sol sabun, sol detergen, sol kanji, tinta tulis, dan cat.
Emulsi yaitu sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair. Syarat terjadinya emulsi ini adalah bahwa kedua zat cair tersebut tidak saling melarutkan. Emulsi dapat digolongkan kedalam dua bagian, yaitu emulsi minyak dalam air atau emulsi air dalam minyak. Contoh emulsi minyak dalam air, yaitu: santan, susu, dan lateks. Contoh emulsi air dalam minyak, yaitu: mayonnaise, minyak bumi, dan minyak ikan.
Gel merupakan koloid setengah kaku (antara padat dancair). Gel dapat terbentuk dari suatu sol yang terdispersinya mengadsorbsi medium dispersinya, sehingga terjadi koloid yang agak padat. Contohnya: agar-agar, lem kanji, selai gelatin, gel sabun, dan gel silika.

ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan:
Ph meter tangan = 1 buah
Senter baterai = 1 buah
Gelas kimia 500 ml = 2 buah
Gelas kimia 200 ml = 3 buah
Pengaduk gelas = 1 buah
Pipet tetes = 2 buah
Centrifuge = 1 buah
Tabung centrifuge = 2 buah
Gelas ukur 250 ml = 1 buah
Gelas ukur 20 ml = 1 buah
Gelas ukur 10 ml = 1 buah
Pipet volume = 1 buah

Bahan yang diperlukan:
Serbuk tanah/debu yang di ayak
Larutan / air gambut / air rawa
Tawas
Kanji 5%
HCl pekat
Akuades
Larutan buffer ph 4 dan ph 7

PROSEDUR KERJA
Koloid artificial (Buatan)
Membuat larutan koloid dengan cara: mengambil ± 15 gram serbuk tanah/debu, kemidian memasukkan kedalam beaker glass 500 ml dan menambahkan 400 ml akuades, mengaduk hingga membentuk larutan.
Memisahkan antara bagian koloid dan endapan dengan cara mendekatirlarutan lalu memasukkan kedalam beaker glass 500 ml. larutan ini sebagai larutan induk
Mengambil larutan (2) ±200 ml, lalu memasukkan kedalam beaker glass 200 ml.
Melakukan penyinaran dengan senter baterai pada koloid tersebut. Mengamati jalannya sinar, apakah sinarnya menembus larutan, sinarnya diteruskan, diteruskan sebagian atau semua sinar diserap.
Mengukur ph larutan (4), kemudian menurunkan pHnya sebanyak 2 satuan dengan cara menambahkan HCl pekat tetes demi tetes. Mengamati perubahan yang terjadi.
Mengambil ±100 ml larutan induk, memasukkan kedalam beaker glass 100 ml, lalu menambahkan ±5 gram tawas, lalu mengaduk merata, membiarkan ±20 menit. Mengamati perubahan yang terjadi.
Mengulangi langkah (5), tetapi menambahkan 15 ml kanji 5%.
Mengambil 2 tabung centrifuge, mengisi masing-masing dengan larutan koloid hingga setengahnya. Melakukan sentrifius pada rpm 2000 ±15 menit. Mengamati perubahan yang terjadi.

Koloid Natural (alami)
Mengambil ±500 ml air gambut / air rawa yang berwarna cokelat / keruh. Larutan ini sebagai larutan induk.
Melakukan hal yang sama pada larutan ini, seperti pada bagian A langkah 3-8.











HASIL PENGAMATAN
Koloid buatan.

No. Variebel yang diamati Hasil pengamatan
1 Mengambil 15,0178 gram serbuk tanah, memasukkan kedalam beaker glass 500 ml + 400 ml akuades.
Larutan tanah

2 Memisahkan antara koloid dan endapan dengan cara mendekatirlarutan, memasukkan kedalam beaker glass 500 ml.
Larutan induk
3 Mengambil larutan (2) ±200 ml dan memasukkanya kedalam beaker glass 200 ml
Larutan induk 200 ml
4 Mengamati jalannya sinar, apakah sinarnya menembus larutan, sinarnya diteruskan, diteruskan sebagian atau semua sinar diserap
Sinarnya tidak menembus larutan
5 Mengukur pH larutan (4), kemudian menurunkan pHnya sebanyak 2 satuan dengan cara menambahkan HCl pekat tetes demi tetes. Mengamati perubahan yang terjadi.

Kalibrasi pH 4 = 4,5
Kalibrasi pH 7 = 7,6
pH larutan = 4,6
1 tetes HCl = 3,5
2 tetes HCl = 3,0
3 tetes HCl = 2,9
4 tetes HCl = 2,8
Perbedaan larutan yaitu pada larutan induk lebih muda dari (larutan induk + HCl).
Warna larutan lebih jernih dari sebelumnya dan terbentuk endapan (gumpalan
6 Mengambil ±100 ml larutan induk, memasukkan kedalam beaker glass 100 ml, menambahkan ±5 gram tawas, mengaduk hingga rata. Membiarkan ±20 menit. Mengamati perubahan yang terjadi.

7 Mengulangi langkah (5), tetapi menambahkan 5 ml kanji 5%.
Warna larutan pada bagian atas lebih jernih dari yang dibawah, dibawah terbentuk endapan atau gumpalan.

8 Mengambil 2 tabung centrifuge, mengisi masing-masing dangan larutan koloid hingga setengahnya. Melakukan sentrifius pada rpm 2000 ±15 menit. Mengamati perubahan yang terjadi

Warna larutan induk di centrifuge lebih bening dari sebelumnya.
Warna larutan pada campuran koloid+HCl yang dicentrifuge lebih jernih dari sebelumnya dan lebih jernih dari larutan induk yang di centrifuge
9 Mengambil 2 tabung centrifuge, mengisi masing-masing dengan larutan induk + tawas dan larutan induk + kanji hingga berisi masing-masing setengahnya. Melakukan sentrifius pada rpm 2000 ± 15 menit. Mengamati perubahan yang terjadi.
Larutan induk yang dicampur dengan larutan kanji 5% menghasilkan larutan yang lebih bersih daripada larutan yang dicampur dengan tawas.

Koloid Natural (alami).
No Variabel yang diamati Hasil pengamatan
1 Memasukkan ± 500 ml air gambut Larutan berwarna cokelat.

2 Mengambil air gambut ± 200 ml dan memasukkan kedalam beaker glass 200 ml.
Larutan berwarna cokelat.

3 Melakukan penyinaran dengan menggunakan senter pada larutan dan mengamati jalannya sinar.
Sinarnya menembus larutan dan diteruskan.

4 Mengukur pH
Buffer pH 4
Buffer pH 7
pH air gambut
4,4
7,5
4,9

5 Menurunkan 2 satuan 2,9
6 Meneteskan 1 tetes HCl pekat.
3,4
7 Meneteskan 1 tetes HCl pekat lagi.
3,0
8 Meneteskan 1 tetes HCl pekat lagi.
2,9
9 Mengamati perubahan yang terjadi, memasukkan air gambut kedalam tabung centrifuge Larutan yang dicampur HCl lebih jernih
10 Memasukkan air gambut + HCl pekat kedalam tabung centrifuge sampai setengahnya.

11 Melakukan centrifuge pada rpm 2000 ± 15 menit.

12 Mengamati perubahan yang terjadi.
Air gambut
Air gambut + HCl
Warna larutan jernih.
Warna larutan jernih.

13 Menambahkan tawas kedalam air gambut (larutan induk). Dan mendiamkan selama ± 20 menit. Mengamati Larutan menjadi keruh
14 Menambahkan kanji kedalam larutan induk. Dan mendiamkan selama ± 20 menit. Mengamati.

15 Memasukkan air gambut + tawas kedalam tabung centrifuge sampai setengahnya kemudian melakukan sentrifius pada rpm 2000 ±15 menit.

16 Memasukkan air gambut + kanji kedalam tabung centrifuge sampai setengahnya kemudian melakukan sentrifius pada rpm 2000 ±15 menit.

17 Mengamati perubahan yang terjadi:
Air gambut + tawas
Air gambut + kanji
Larutan menjadi jernih
Larutan lebih jernih daripada larutan induk + tawas.


ANALISIS DATA
Koloid buatan
Pada prosedur pertama, yaitu mengambil ± 15 gram serbuk tanah, memasukkan kedalam beaker glass 500 ml dan menambahkan 400 ml akuades, menghasilkan larutan tanah yang berendapan. Pada prosedur kedua, yaitu memisahkan antara larutan koloid (larrutan induk)dengan endapannya. Hal ini dimaksudkan supaya larutan tersebut mudah diamati. Kemudian mengambil ± 200 ml larutan tersebut dan melakukan penyinaran dengan menggunakan senter. Setelah diamati, ternyata sinarnya tidak menembus larutan. Hal ini disebabkan jarak antara partikel tanah dalam larutan tersebut rapat. Sehingga cahaya senter tidak dapat menembus larutan tersebut.
Prosedur selanjutnya, yakni mengukur pH larutan dengan kalibrasi pH 4 dan pH 7 terlebih dahulu dan menghasilkan pH larutan 4,6. Selanjutnya menurunkan 2 satuan pHnya dengan cara menambahkan HCl pekat tetes demi tetes. Hal ini dilakukan supaya bisa dengan mudah mengetahui berapa HCl pekat yang dibutuhkan dalam proses ini. Dari proses ini didapat larutan berwarna lebih muda dari sebelumnya. Hal ini dukarenakan terjadinya peristiwa penyerapan molekul atau ion pada zat.
Prosedur selanjutnya, memasukkan tawas dan menambahkan ± 100 ml larutan induk kemudian membiarkan ± 20 menit dan menghasilkan warna larutan lebih jernih dari sebelumnya, dan terbentuk endapan berupa gumpalan. Hal ini disebabkan adanya peristiwa penyerapan terhadap molekul ion pada zat sehingga air lebih jernih.
Selanjutnya mengulangi langkah (5), tetapi ditambah kanji 5% dan menghasilkan warna larutan bagian atas lebih jernih yang disebabkan oleh adanya penyerapan molekul atau ion, pada zat bagian bawah menghasilkan endapan yang disebabkan oleh partikel koloid yang saling bertumbukan kemudian bersatu, maka lama-kelamaan dapat terbentuk partikel yang cukup besar, kemudian mengendap.
Pada prosedur terakhir yaitu mengisi 2 buah tabung centrifuge dengan larutan induk + tawas dan larutan induk + kanji hingga masing-masing berisi setengahnya.
Lalu di memasukkan larutan tersebut kedalam centrifuge dan menghasilkan larutan yang lebih bersih disbanding larutan sebelumnya, yang disebabkan oleh penyerapan sempurna terhadap molekul atau ion pada zat. Selain itu centrifuge juga berfungsi sebagai alat pembersih air.
Koloid natural (alami)
Pada prosedur pertama yaitu, mengambil ±500 ml air gambut (air rawa) yang berwarna cokelat dan larutan ini merupakan larutan induk.
Prosedur kedua, yaitu mengambil ±200 ml larutan induk dan mengamati jalannya sina, menghasilkan sinarnya menembus larutan dan diteruskan. Hal ini disebabkan oleh jarak antar partikel dalam larutan terlalu jauh, sehingga cahaya dapat menembus larutan. Peristiwa ini sesuai dengan sifat koloid yaitu “Efek tyndall”.
Efek tyndall tidak sama untuk setiap sinar yang mempunyai panjang gelombang berbeda. Sinar kuning misalnya, sinar tersebut lebih sedikit dihamburkan. Itulah sebabnya lampu berwarna kuning sering dipakai pada saat berkabut, dimana cahaya kuning lebih dapat menembus kabut dan terlihat oleh pemakai jalan.
Pada prosedur selanjutnya, yaitu mengukur pH larutan dengan kalibrasipH 4 dan pH 7, terlebih dahulu dan didapatkan pH larutan sebesar 4,9. Selanjutnya menurunkan 2 satuan pH nya yang bertujuan sebagai batas (ukuran) dalam penambahan HCl. Dengan begitu kita dapat mengetahui berapa banyak tetesan HCl yang dibutuhkan.
Selanjutnya, penambahan HCl pada air gambut dan menghasilkan larutan lebih jernih, hal ini disebabkan oleh adanya peristiwa penyerapan molekul atau ion terhadap zat. Peristiwa ini sesuai dengan sifat koloid yaitu “adsorpsi”. Adsorpsi yaitu kemampuan partikel koloid untuk menyerap berbagai zat pada permukaannya.
Prosedur selanjutnaya, yaitu penambahan tawas pada air gambut (larutan induk) dan menghasilkan warna larutan yang lebih jernih yang disebabkan danya peristiwa penyerapan ion atau molekul terhadap zat. Sama dangan sebeelumnay, peristiwa ini sesuai dengan sifat koloid “adsorpsi”.
Selanjutnya menambahkan kanji 5% kedalam air gambut, menghasilkan larutan keruh. Hal ini dikarenakan kanji termasuk koloid yang fase terdipersinya padat yang disebut sol.
Prosedur terakhir memasukkan larutan tawas dan kanji kedalam tabung centrifuge hingga setengahnya.
Lalu kedua tabung centrifuge yang telah diisi dengan larutan air rawa tersebut di centrifuge denagn alat centrifuge pada rpm 2000 ± 15 menit.
Dan menghasilkan larutan lebih bersih daripada sebelumnya. Hal ini disebabkan terjadinya peristiwa penyerapan ion / molekul zat terdispersi dan ion ? molekul pendispersinya. Selain itu, centrifuge juga berfungsi sebagai alat pembersih air.

KESIMPULAN
Pada campuran antara debu dan akuades, debu berperan sebagai fase terdispersi, dan akuades sebagai fase pendispersinya (medium disperse).
Sinar pada larutan serbuk tanah tidak dapat menembus larutan. Hal ini disebabkan oleh jarak antarpartikel zat terdispersinya terlalu rapat. Larutan ini disebut Suspensi.
Suspensi merupakan campuran kasar. Kedua zat suspense yang telah dicampur, lambat laun akan mengalami sedimentasi.
Pada larutan air gambut, sinar dari senter dapat menembus larutan. Hal ini disebabkan oleh jarak antara partikel pada larutan jauh. Larutan ini disebut koloid.
Pada saat campuran antara air gambutdan HCl pakat ditambahkan tawas, larutan ini berubah menjadi lebih jernih. Hal ini disebabkan sifat koloid bahwa koloid bermuatan, yaitu “adsorpsi”. Adsorpsi merupakan kemampuan partikel koloid untuk menyerap berbagai zat pada permukaanya.

DAFTAR PUSTAKA
Akhmad, Hiskia. 1993. Penuntun Dasar-Dasar Praktikum Kimia. PMIPA FKIP
ITB: Bandung.
Purba, Michael.2004. Kimia SMA kelas XI jilid 2. Erlangga: Jakarta.
Syahmani. 2010. Panduan Praktikum Kimia Dasar. FKIP UNLAM: Banjarmasin.














Lampiran.
Soal.
Apa peranan tawas dan kanji pada percobaan ini?
Jelaskan apa yang dimaksud dengan:
Koagulan
Flok
Sol
Emulsi
Gel
Mengapa gravitasi tidak berperan dalam proses pengendapan koloid? Bagaimana dengan peranan gaya sentrifugal?
Berikan sifat-sifat fisik dan kimia larutan koloid berdasarkan percobaan yang telah dilakukan!
Mengapa pada saat mencampurkan kanji, menggunakan air panas?

Jawaban:
Perananya yaitu sebagai pembersih air.
Yang dimaksud dengan:
koagulan yaitu penggumpalan partikel koloid yang terjadi karena kerusakan stabilitas sistem koloid atau karena penggabunga partikel koloid yang berbeda muatannya.
Flok yaitu perlakuan koagulasi dalam proses pengolahan membrane bahan-bahan kimia untuk membentuk gumpalan.
Sol yaitu sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair.
Emulsi yaitu sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zar cair lain.
Gel yaitu koloid yang setengah kaku (antara padat dan cair)
Karena, partikel zat pada campuran koloid heterogen dan merupakan sistem dua fase. Jadi, camputran kolid hamper dapat bercampur dengan sempurna. Peranan gaya sentrifugal yaitu mampu membuang warna dan bau pada suatu larutan.
Sifat-sifat fisik dan kimia larutan koloid berdasarkan percobaan yang telah dilakukan yaitu:
Efek tyndall
Adsorpsi
Koloid Liofil
Sebab kanji termasuk sol, yaitu sisitem koloid dari partikel zat padatyang terdispersi dalam zat cair. Dan kanji alan lebih mudah bercampur dengan air, apabila air tersebut panas.














Gambar pada saat dilakukan penyinaran



Gambar larutan induk + tawas dan larutan induk + kanji
Pada percobaan koloid buatan

Gambar alat centrifuge




Gambar larutan induk + tawas dan larutan induk + kanji
Pada percobaan koloid alami



FLOWCHART
PercobaanVII
“Kimia Koloid”

Koloid Artifisial



Memasukkan kedalam beaker glass



Memisahkan antara bagian koloid dan endapan dengan cara mendekatirlarutan, lalu memasukkan kedalam beaker glass 500 ml. larutan ini sebagai larutan induk.




Memasukkan ke beaker glass 200 ml


Melakukan penyinaran dengan senter baterai pada larutan koloid. Mengamati jalanya sinar, apakah sinarnya menembus larutan, sinarnya diteruskan , diteruskan sebagian atau semua sinar diserap.
Mengukur pH larutan koloid tersebut, kemudian menurunkan pH nya sebanyak 2 satuan dengan cara menambahkan HCl pekat tetes demi tetes. Mengamati perubahan yang terjadi.



Memasukkan kedalam beaker glass 100 ml
Mengaduk
Membiarkan ±20 menit



Mengamati perubahan yang terjadi
Mengukur pH larutan koloid, kemudian menurunkan pHnya ebanyak 2 satuandengan cara menambahkan 15 ml kanji 5%

Tabung Centrifuge 1 dan 2



Melakukan sentrifius pada rpm 2000 ±15 menit


Mengamati perubahan yang terjadi

Koloid Natural (alami)



Memasukkan kedalam beaker glass





Tabung Centrifuge 1 dan 2



Melakukan sentrifius pada rpm 2000 ± 15 menit


Mengamati perubahan yang terjadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar